Berdasarkan angka tahun yang tertera pada nisan, diketahui rentang waktu penggunaannya sangat panjang. "Angka tahun pada nisan menunjukkan mulai 1290 Saka (1368 M) dan termuda 1533 Saka (1611 M)," jelas BPK Wilayah Jatim.
Artinya, nisan-nisan ini digunakan sejak masa kejayaan Majapahit hingga periode setelahnya. Keunikan lain terletak pada bentuk dan ornamennya.
Nisan Troloyo menunjukkan adanya akulturasi budaya. "Unsur hiasnya menunjukkan percampuran gaya seni Hindu-Buddha dan Islam," terang pihak balai.
Salah satu contohnya adalah motif kala yang ditemukan pada nisan. Namun motif tersebut tidak digambarkan secara utuh seperti pada candi. "Kala yang disamarkan atau distilasi menjadi dekorasi yang tidak bertentangan dengan keyakinan," lanjut keterangan tersebut.
Bahkan beberapa unsur yang dulunya identik dengan kepercayaan sebelumnya juga mengalami perubahan. "Pancaran sinar dari Surya Majapahit, dewa-dewa dalam lingkaran surya dihilangkan," pungkas BPK Wilayah Jatim.
Nisan Troloyo kini menjadi salah satu artefak penting untuk memahami proses Islamisasi di Jawa yang berjalan damai dan beradaptasi dengan budaya lokal. (*/ram)
Editor : Rizal AmrullohSumber : BPK Wilayah Jatim