Sektor peternakan menjadi salah satu penunjang pemenuhan kebutuhan pangan sejak jauh sebelum terbangunnya peradaban modern. Pada masa Kerajaan Majapahit (abad 13-16 Masehi) diyakini telah menerapkan sistem budi daya ternak terpadu. Untuk memudahkan proses pemenuhan pangan hewani sekaligus menopang sektor perekonimian kala itu.
Budidaya ternak di era modern saat ini relatif banyak terbantu dengan pesatnya pemanfaatan teknologi canggih. Mulai dari penggunaan pakan buatan, alat pengaduk pakan, alat pengendali suhu maupun terbentuknya ekosistem dagang dan distribusi hasil peternakan yang terfasilitasi internet. Hal ini berbanding terbalik dengan sistem budidaya ternak yang diterapkan pada ratusan atau ribuan tahun lalu. Yang penerapannya cenderung lebih konvensional dan sederhana namun tepat guna.
Seperti yang tergurat pada salah satu panel Relief Karmawibhangga Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke 8-9 Masehi warisan Wangsa Syailendra atau Sailendra. Yang menggambarkan masyarakat kala itu telah beternak dengan mengkombinasikan kandang ternak ayam dibangun satu lokasi di atas kolam ikan. Artinya, masyarakat Jawa Kuno telah mengenal sistem budidaya ternak yang saat ini disebut Mina Ayam.
Metode ternak yang mengarah pada konsep zero waste system yang kemungkinan juga diwariskan dan diterapkan pada masa Majapahit maupun era modern kini. ’’Melihat penggambarannya, ada kemungkinan peternakan saat itu sudah menerapkan sistem seperti itu. Namun, perlu digarisbawahi kalau sampai saat ini masih belum ada data yang cukup untuk menjelaskan secara teknis bagaimana penerapan sistem peternakan kala itu,’’ terang budayawan Mojokerto Putut Nugraha.
Menurut Putut, masyarakat Jawa Kuno hingga era Wilwatikta sebagian masih memanfaatkan hasil alam. Sehingga, pemprosesan dan hasil sektor peternakan kala itu belum semasif peternakan era modern. ’’Ternak ikan misalnya. Kala itu masyarakat Majapahit masih banyak yang menjaring ikan langsung di aliran sungai atau kanal yang hasil alamnya masih melimpah. Jadi hasil ternak ikan oleh masyarakat saat itu relatif kecil,’’ urai alumnus Universitas Gadjah Mada ini.
Namun menurutnya, tidak menutup kemungkinan sejumlah teknik dan sistem peternakan hasil peradaban Jawa Kuno diteruskan oleh masyarakat era Majapahit. ’’Berbagai teknik yang diterapkan masyarakat Majapahit memang banyak terpengaruh oleh peradaban sebelumnya. Karena memang teknologi itu bukan milik penguasa atau kerajaan tertentu tetapi milik peradabannya,’’ tandas anggota Divisi Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini. (marda vadtya/fendy hermansyah)