Penggunaan bata merah, gapura bergaya klasik, hingga konsep pendopo terbuka menjadi bukti bahwa arsitektur Majapahit tetap menjadi inspirasi dalam dunia pembangunan.
Tak sedikit gedung pemerintahan, kawasan wisata, hotel, hingga rumah tinggal yang mengadopsi unsur-unsur tersebut.
Baca Juga: Tari Bedhaya Majapahit Puji Sesanti yang Sarat Filosofi dan Pesan Moral
Berikut beberapa ciri khas arsitektur Majapahit yang masih bertahan hingga saat ini.
1. Gapura Candi Bentar
Salah satu ikon arsitektur Majapahit adalah gapura candi bentar, yakni gerbang yang terbelah menjadi dua bagian dengan bentuk yang simetris.
Model gapura ini masih banyak dijumpai sebagai pintu masuk kawasan wisata, kompleks pemerintahan, perumahan, hingga tempat ibadah. Desainnya memberikan kesan megah sekaligus mencerminkan nilai budaya Jawa yang telah diwariskan selama berabad-abad.
2. Gapura Paduraksa
Selain candi bentar, Majapahit juga mengenal gapura paduraksa yang memiliki atap menyatu di bagian atas.
Pada masa Majapahit, gapura ini biasanya menjadi pintu menuju kawasan yang lebih sakral atau penting. Hingga kini, bentuk paduraksa masih banyak diterapkan pada pintu masuk keraton, kawasan cagar budaya, hingga kompleks keagamaan.
3. Bata Merah Ekspos
Majapahit dikenal luas karena penggunaan bata merah sebagai material utama bangunan.
Berbeda dengan bangunan modern yang umumnya diplester, bata merah pada masa Majapahit justru dibiarkan terlihat sehingga menampilkan karakter yang khas.
Konsep tersebut kini kembali populer dan banyak diterapkan pada rumah bergaya tropis, kafe, restoran, hotel, maupun bangunan publik karena dianggap mampu menghadirkan nuansa klasik sekaligus alami.
4. Pendopo Terbuka
Konsep ruang terbuka juga menjadi salah satu ciri arsitektur yang berkembang sejak masa kerajaan di Jawa, termasuk Majapahit.
Bangunan tanpa dinding ini berfungsi sebagai tempat menerima tamu, bermusyawarah, hingga menggelar berbagai kegiatan adat.
Saat ini, pendopo masih banyak dijumpai di kantor pemerintahan, balai desa, rumah adat, hingga berbagai fasilitas umum sebagai ruang berkumpul masyarakat.
5. Ornamen Relief dan Ukiran
Arsitektur Majapahit juga identik dengan relief serta ukiran bermotif flora, fauna, maupun simbol-simbol tertentu.
Meski mengalami penyesuaian desain, ornamen tersebut masih sering digunakan untuk mempercantik bangunan bergaya tradisional maupun modern, terutama pada museum, pendopo, hotel, dan gedung pemerintahan.
Baca Juga: Pesona Kampung Majapahit di Desa Bejijong, Kabupaten Mojokerto Pikat Wisatawan Mancanegara
Keberadaan unsur-unsur arsitektur Majapahit menunjukkan bahwa warisan budaya tidak berhenti sebagai peninggalan sejarah semata. Berbagai konsep bangunan yang berkembang pada masa kerajaan masih relevan dan mampu berpadu dengan desain masa kini.
Di kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, pengaruh arsitektur Majapahit masih dapat dirasakan melalui berbagai situs bersejarah seperti Wringin Lawang, Candi Bajang Ratu, hingga Candi Tikus.
Ketiga bangunan tersebut menjadi referensi penting dalam mempelajari teknik pembangunan, penggunaan material, serta estetika arsitektur pada masa Majapahit.YOLANDA
Editor : Imron Arlado