Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Pelabuhan Laut Utara Jawa Jadi Penopang Perdagangan Era Majapahit

Yulianto Adi Nugroho • Selasa, 7 Juli 2026 | 10:09 WIB
BERCORAK MARITIM: Miniatur kapal dari masa Kerajaan Majapahit yang menunjukkan budaya maritim di Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
BERCORAK MARITIM: Miniatur kapal dari masa Kerajaan Majapahit yang menunjukkan budaya maritim di Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

BUDAYA maritim Kerajaan Majapahit salah satunya ditunjukkan melalui masifnya aktivitas perdagangan lokal maupun internasional yang mengandalkan jalur laut dan sungai. Di antara pelabuhan penting di masa 700 tahun silam itu antara lain, Tuban, Gresik, Sidoarjo, dan Surabaya yang berada di pesisir utara Jawa.

Eksistensi pelabuhan Majapahit termaktub dalam sejumlah prasasti dan Kitab Negarakertagama. ”Majapahit memiliki beberapa pelabuhan penting,” kata dosen sejarah Universitas Negeri Malang Deny Yudo Wahyudi, dalam webinar Jalur Perdagangan dan Pelayaran Rempah-Rempah pada Era Majapahit yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, 30 Januari 2026.

Bandar dagang Majapahit yang diketahui sejauh ini antara lain, Canggu dan Bubat yang merupakan pelabuhan sungai. Pelabuhan di Sungai Brantas ini menjadi penyambung antara wilayah pedalaman dengan pesisir. Sementara itu, pelabuhan laut yang eksis meliputi, Kambang Putih di Tubab, Grisee di Gresik, Hujung Galuh di Surabaya, dan Terung di Sidoarjo. Seluruh pelabuhan itu berada di pesisir utara laut Jawa yang sekaligus menjadi muara Sungai Brantas dan Bengawan Solo. 

”Ini pelabuhan-pelabuhan penting yang aman dan ideal, sehingga menjadikannya pusat perdagangan ramai yang dikunjungi saudagar asing. Terung dan Hujung Galuh sendiri menjadi pelabuhan sungai penopang atau penghubung dengan pelabuhan sungai yang membawa komoditas dari pedalaman,” beber Deny.

Menurutnya, deretan pelabuhan yang berada di laut utara Jawa itu menjadi jalur utama kegiatan ekspor dan impor. Hasil bumi dari pedalaman Majapahit dijual ke luar negeri. Berbagai komoditas pertanian, ternak, hingga tekstil ini diangkut dari pelabuhan Sungai Brantas dan Bengawan Solo menuju pelabuhan laut. Di sisi lain, kapal-kapal asing yang membawa para saudagar negeri seberang dan rempah-rempah dari wilayah timur Nusantara masuk ke wilayah Majapahit melalui pelabuhan di laut utara Jawa, untuk kemudian dijual kembali ke luar kawasan.

”Perniagaan dan aktivitas di pelabuhan pesisir Jawa bertambah ramai seiring kemajuan Kerajaan Majapahit. Pada masa ini terjadi pergeseran pola produksi dan konsumsi di Jawa. Di mana, Majapahit yang berada di dekat lembah Sungai Brantas, tempat ini dinilai cocok sekali untuk mengendalikan daerah pertanian di belakangnya. Sekaligus lokasi ini memiliki akses yang baik ke pelabuhan-pelabuhan pesisir Jawa Timur di muara sungai,” tuturnya. (adi/ris)

Editor : Rizal Amrulloh
#Kemenbud #mojokerto #BPK Wilayah Jatim #majapahit