Bentuk bangunan rumah di masa Kerajaan Majapahit dipengaruhi budaya Tionghoa. Seperti penggunaan atap genting hingga batu bata yang disebut sudah lebih dulu menjamur di daratan Cina.
’’Pada masa Majapahit, bentuk-bentuk bangunan rumah itu mendapat pengaruh yang cukup kuat dari budaya Tionghoa atau Cina,’’ tutur dosen arkeologi UGM, Fahmi Prihantoro, dalam webinar yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur pada 14 Februari 2026
Menurutnya, pengaruh budaya tersebut tercermin melalui berbagai komponen dari gaya rumah penduduk Majapahit. Di antaranya genting dan batu bata. ’’Genting dan batu bata itu baru dikenal pada masa Majapahit, sementara di Cina sudah menggunakan seperti itu yang secara kultur jauh lebih tua,’’ imbuhnya.
Pengaruh yang bertahan hingga sekarang itu dibawa para penjelajah Tionghoa beragama Islam saat masuk ke tanah Jawa pada masa kekuasaan Majapahit sekitar 700 tahun silam.
Sebagai dinasti yang memiliki kebudayaan lebih tinggi, orang-orang Tionghoa di zaman itu mampu memberi pengaruh besar dalam hal teknologi hingga gaya hidup.
’’Beberapa buku menulis tentang Tionghoa muslim di Majapahit, jadi mereka memang bergama Islam. Ini sejalan dengan di Cina sendiri saat itu Islam memiliki tempat yang cukup kuat seperti Ceng Ho,’’ jelas Fahmi.
Jadi Pionir Tradisi Arsitektur Jawa
Gaya arsitektur Nusantara, khususnya yang berkembang di Pulau Jawa, diyakini merupakan warisan Kerajaan Majapahit. Bangunan rumah tapak dengan genting dan batu bata disebut muncul pada masa kerajaan yang menurut penelitian berpusat di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, tersebut.
’’Majapahit menjadi awal perkembangan kebudayaan di Indonesia, seperti bangunan rumah yang bentuknya bisa ditemukan sampai saat ini,’’ kata Fahmi Prihantoro, pengajar arkeologi di UGM dalam webinar yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur.
Menurutnya, bentuk rumah yang berdiri langsung di atas tanah atau bangunan tapak baru muncul di Jawa pada era Majapahit. Model bangunan itu dipengaruhi kebudayaan Tionghoa. Adapun gaya bangunan pada masa sebelumnya hingga masa awal Majapahit berupa rumah panggung.
’’Di relief-relief candi di Jawa Tengah, rumah-rumah berupa rumah panggung, tapi kemudian pada masa Majapahit bisa dilihat bahwa rumah-rumah dibangun di atas tanah. Ini satu hal yang didapatkan dari pengaruh Cina,’’ terangnya.
Selain itu, penggunaan genting untuk atap rumah yang menggeser ijuk atau jerami juga dipopulerkan pada masa Majapahit. Genting yang dibuat dari tanah liat muncul sejak masa akhir kerajaan tersebut. ’’Ini sebenarnya hal baru yang muncul pada masa Majapahit yang itu cukup banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Tionghoa,” tandas Fahmi. (adi/fen)
Editor : Rizal Amrulloh