Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Dinding hingga Tangga Istana Majapahit Dilapisi Emas

Rizal Amrulloh • Minggu, 7 Juni 2026 | 14:18 WIB
REPLIKA: Bangunan rumah Majapahit berbahan kayu di Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
REPLIKA: Bangunan rumah Majapahit berbahan kayu di Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
 

EMAS telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat kelas atas pada masa Majapahit. Dinding istana, atap, hingga anak tangga kediaman keluraga kerajaan dan bangsawan konon dilapisi dengan logam mulia tersebut.

Dosen sejarah Universitas Negeri Malang, Daya Negri Wijaya mengatakan, gaya hidup mewah itu tertuang dalam kesaksian pendeta Italia, Odorico Mattiuzzi da Pordedone, ketika berkunjung ke Jawa sekitar 1321-1322 Masehi

Kisah perjalanan tersebut diceritakan Odorico kepada sejawatnya, William de Solona, pada 1330 Masehi yang kemudian dituangkan dalam manuskrip Relatio de mirabilibus orientalium Tatarorum. ’’Hampir semua informasi mengatakan bahwa emas itu bagian dari gaya hidup dan Odorico menyampaikan bahwa ada berbagai hal yang disepuh dengan emas atau menggunakan emas,’’ ungkapnya dalam seminar Wilwatikta Acarita yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, 14 November 2025. 

Kisah Odorico menyebutkan, istana raja Jawa saat itu berukuran besar dan mewah. Bangunan ini memiliki tangga lebah dan megah yang mengarah ke ruangan di bagian atas. Seluruh anak tangga dibuat dari emas dan perak yang berganti atau berselang-seling. Selain itu, Odorico juga mengaku menyaksikan semua dinding bagian dalam dilapisi dengan emas tempa. 

Tak hanya itu, menurut Odorico, atap istana yang ia singgahi juga terbuat dari emas murni. Adapun seluruh ruangan di bagian bawah dilapisi lempengan kotak dari emas dan perak yang disusun secara berselingan. Daya Negri mengungkapkan, dalam penuturannya, Odorico juga mengungkapkan gambar para kesatria kerajaan diukir pada lapisan emas. ’’Setiap para kesatria berhiaskan sebuah mahkota emas kecil yang dihias dengan beragam batu mulia,’’ ujarnya.

Menurut Daya Negri, kesaksian Odorico dapat ditelusuri melalui sejumlah peninggalan Majapahit. Antara lain, relief Kresnayana di Candi Penataran, relief Pandawan di Candi Tegowangi, arca terakota, serta figurin. ’’Gaya berbusana bangsawan terutama bagian atas itu selalu disanggul ke atas belakang kemudian diberi mahkota,’’ tandasnya.

Rumah Rakyat Jelata Berbahan Kayu dan Bambu

Berbeda dengan istana kerajaan dan rumah bangsawan yang kukuh dan berlapis emas. Rumah rakyat jelata di zaman Majapahit hanya terbuat dari bahan kayu dan bambu. Kendati sederhana, bangunan tempat tinggal masyarakat dibangun secara terampil dan tahan lama. 

Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur Tommy Raditya Dahana menjelaskan, terdapat perbedaan mendasar antara bangunan candi dan istana dengan rumah biasa.

Salah satunya dari bahan yang digunakan. Konstruksi istana kerajaan dan candi, lanjutnya, umumnya menggunakan batu andesit dan batu bata. ”Hasilnya, bangunan lebih kukuh dan awet, sampai sekarang pun masih banyak situs dan candi peninggalan Majapahit,” tuturnya.

Sebaliknya, hampir semua rumah penduduk jelata Majapahit terbuat dari kayu. Seluruh bagian bangunan yang dipakai sebagai tempat tinggal sehari-hari ini berasal dari kayu dan bambu. ”Rangka bangunan disambungkan tanpa paku dan logam, sedangkan pasanya pakai bambu. Model ini membuat rumah rakyat Majapahit relatif praktis karena mudah dibongkar pasang, serta tahan getaran,” beber Tommy. 

Keterampilan rakyat Majapahit dalam membangun hunian juga ditunjukkan dengan penggunaan batur dan umpak yang menyangga tiang rumah. Keberadaan batu ini berfungsi untuk mencegah kayu mengalami pelapukan dini karena terkena air. ”Halaman rumah juga dilengkapi dengan dua jalur selokan terbuka supaya air hujan tidak menggenang,” jelas dia. (adi/ris)

Editor : Rizal Amrulloh
#Kemenbud