Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Dari Gapura Belah hingga Konsep Tata Ruang, Beginilah Arsitektur Khas Majapahit di Era Prakolonial

Yulianto Adi Nugroho • Jumat, 15 Mei 2026 | 18:40 WIB
DIWARISI: Candi Bajang Ratu, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, bergaya gapura paduraksa dari masa Kerajaan Majapahit. (foto: dok. JPRM)
DIWARISI: Candi Bajang Ratu, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, bergaya gapura paduraksa dari masa Kerajaan Majapahit. (foto: dok. JPRM)

PERADABAN Kerajaan Majapahit terejawantah dalam berbagai arsitektur Nusantara prakolonial. Dari bangunan gapura belah dan gapura paduraksa hingga konsep tata ruang kota-kota kesultanan. 

Rahadhian Prajudi Herwindo, dosen arsitektur Universitas Katolik Parahyangan mengatakan, bangunan gapura belah (split gate) yang berasal dari zaman Majapahit dilestarikan kesultanan Islam di Banten dan Cirebon hingga masyarakat Hindu di Pulau Bali. 

Gerbang dengan bagian simetris di kedua sisinya itu berfungsi sebagai pintu masuk area suci.

”Di Bali, gerbang ini dikenal sebagai Candi Bentar dan saat ini banyak digunakan untuk kompleks keagamaan maupun non-keagamaan,” tuturnya dalam webinar yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, 3 Desember 2024 lalu. 

Di Mojokerto, gapura belah dapat ditemukan pada Candi Wringin Lawang di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan.

Sementara itu, gapura paduraksa yang bentuknya mirip dengan gapura belah terdapat di Candi Bajang Ratu, Desa Temon, Kecamatan Trowulan.

Rahadhian mengungkapkan, berdasarkan tradisi Bali, gapura paduraksa biasanya ditempatkan di area dalam kompleks bangunan, sehingga sifatnya lebih privat daripada gapura belah yang berfungsi sebagai pintu masuk.

”Pada masa pasca-Majapahit, gapura paduraksa ada di masjid, makam Gunung Jati, kasepuhan Cirebon, serta puri dan pura di Bali,” terangnya.

Selain gapura, kebudayaan arsitektur Majapahit juga memengaruhi konsep tata ruang pada masa sebelum kolonial masuk ke Nusantara.

Yakni, pola grid atau berkotak-kotak yang terdapat pada wilayah kesultanan era Demak dan Cirebon, Pajang Mataram Islam, Kartarusa, Bali, hingga istana-istana yang lebih baru, seperti Yogyakarta dan Surakarta. 

”Pola spasial ini memiliki ciri khas adanya perempatan dengan bangunan publik, bangunan suci, permukiman, dan pohon beringin,” tandasnya.

Adapun arsitektur khas candi Majapahit terwariskan dalam bentuk atap limasan, atap bertumpuk, serta tumpang sari yang masih eksis hingga kini. (adi/ris)

 

Editor : Martda Vadetya
#candi bentar #majapahit #candi bajang ratu #bali #gapura