Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Didominasi Muslim, Etnis Tionghoa Jadi Penyebar Ajaran Islam di Zaman Majapahit

Yulianto Adi Nugroho • Minggu, 19 April 2026 | 17:54 WIB
KUNO: Replika rumah tapak era Majapahit di Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: dok JRPM)
KUNO: Replika rumah tapak era Majapahit di Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: dok JRPM)

MAYORITAS Tionghoa yang tinggal di wilayah Majapahit beragama Islam. Para muslim ini menyebarkan ajaran Islam hingga memiliki komunitas sendiri.

Catatan Ma Huan saat mengunjungi Jawa pada 1416 adalah satu dari sedikit sumber sejarah yang berbicara tentang keberadaan komunitas muslim di Majapahit.

Sumber lainnya ada dalam sejarah Melayu di buku The Malay Annals of Semarang and Cirebon yang berbicara tentang komunitas muslim Tionghoa di Jawa.

”Bagian di buku itu menyatakan utusan-utusan Tiongkok dari Dinasti Ming di Majapahit abad 15 Masehi kebanyakan beragama Islam,” kata Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur Tommy Raditya Dahana. 

Sejarah mencatat, para kaum muslim Tionghoa itu bermazhab Hanafi. Sebelum ke Majapahit, lanjut Tommy, mereka membentuk kampung Muslim Tiongkok di Ku-kang (Palembang).

Mereka juga bermukim di sejumlah daerah lain di Jawa untuk mendirikan masjid. ”Beberapa masjid telah didirikan di daerah kekuasaan Majapahit. Seperti di daerah Cangki (Mojokerto), Lasem, Tuban, T’e-Tsun (Gresik), dan Jiaotung (Jaratan, Gresik),” tuturnya. 

Tommy menjelaskan, masyarakat muslim Hanafi semasa itu telah berkembang pesat di Jawa. Kondisi ini sampai membuat kantor konsul jenderal masyarakat Tiongkok muslim Hanafi di Asia Tenggara bagian selatan ditempatkan di Tuban. Bahkan, pada masa pemerintahan Raja Suhita (1429-1447 Masehi), Konsul Jenderal bernama Haji Gang Eng Cu mendapat gelar A-lu-ya (Arya). 

Selain itu, seorang Duta Besar Tiongkok bernama Haji Ma Hong Fu juga mendapat keistimewaan dengan bertempat tinggal di lingkungan keraton Majapahit.

”Seperti ditulis dalam buku Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th Centuries, Ma Hong Fu akhirnya kembali ke Cina ketika pemerintahan Ratu Suhita berakhir. Sedangkan istrinya seorang Putri Cempa meninggal dunia dan dikuburkan di Majapahit,” jelas Tommy. 

Mengingat masifnya peran masyarakat Tionghoa dalam peradaban Majapahit, tidak heran apabila budaya yang mereka bawa ikut memengaruhi berbagai gaya arsitektur bangunan yang masih lestari hingga sekarang. (adi/ris)

Editor : Martda Vadetya
#islam #muslim #majapahit #tiongkok #tionghoa