Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Upacara Sraddha di Era Kerajaan Islam Pasca-Majapahit Mirip Tradisi Nyadran yang Lestari hingga Kini

Yulianto Adi Nugroho • Jumat, 6 Maret 2026 | 19:00 WIB

 

KEARIFAN LOKAL: Ratusan warga mengikuti kirab tumpeng ageng menuju makam leluhur dalam acara nyadran menyambut Ramadan di Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, 29 Januari lalu.
KEARIFAN LOKAL: Ratusan warga mengikuti kirab tumpeng ageng menuju makam leluhur dalam acara nyadran menyambut Ramadan di Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, 29 Januari lalu.

TRADISI Nyadran untuk menyambut Ramadan berakar dari perayaan Majapahit yang diwariskan hingga sekarang. Meski secara konsep berbeda, nyadran serupa dengan upacara Sraddha yang merupakan ritual mengenang arwah leluhur dalam tradisi Hindu.

’’Bagi masyarakat Majapahit, Sraddha adalah upacara untuk mengenang seseorang yang telah meninggal,’’ pemerhati sejarah Asisi Suhariyanto di YouTube ASISI Channel.

Upacara Sraddha paling meriah digelar untuk mendiang ibu suri Gayatri Rajapatni yang diabadikan Empu Prapanca Kitab Negarakertagama.

Menurutnya, catatan itu menjadi referensi tentang perayaan di Wilwatikta yang paling detail.

Sraddha digelar dengan bentuk membuat arca mendiang lalu pesta bagi seluruh rakyat dan arak-arakan persembahan dengan ritual dan doa.

Tradisi ini tetap lestari di masa kerajaan Islam pasca-Majapahit. Meski bentuk dan namanya mengalami pergeseran, Sraddha abadi dalam tradisi Nyadran yang digelar sampai sekarang dijalankan untuk menyambut bulan puasa.

 

 

Asisi mengungkapkan, konsep Nyadran adalah perayaan semua kalangan. Digelar antara Rajab dan Sya’ban dalam kalender Islam atau Ruwah menurut Kalender Jawa. Karena itu pula, di sejumlah daerah nyadran dikenal sebagai Ruwahan.

’’Setiap daerah acaranya bisa berbeda, misalnya ada yang melakukan bersih-bersih kubur, padusan atau mandi di sungai, menggelar wayang kulit, menggelar doa bersama, atau kenduri alias makan-makan,’’ jelas pria asal Kota Malang itu.

Secara tradisi, Nyadran dimaknai sebagai sarana mengungkapkan rasa syukur sekaligus mengirimkan doa untuk para leluhur.

 

Baca Juga: Data Puluhan Situs di Gunung Penanggungan Di-Update, Tim Gabungan Lakukan Penyisirian Bertahap

 

Bahkan, lanjut Asisi, di daerah tertentu, Nyadran diisi dengan membuat ambeng-ambeng atau semacam altar berisi makanan dan minuman kesukaan mendiang. Hidangan itu dibiarkan semalaman sebelum hari pertama puasa. (adi/fen)

Editor : Martda Vadetya