MASYARAKAT biasa di zaman Majapahit berburu binatang untuk memenuhi kebutuhan pangan. Namun, lain hal dengan kalangan bangsawan dan kerajaan yang menjadi berburu sebagai sarana hiburan dan latihan berperang.
Siswanto dalam Buku Majapahit: Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya, mengatakan, gambaran seorang raja sedang berburu terdapat dalam Kitab Negarakertagama.
Pupuh LV (1) menyebut raja berangkat berburu berlengkapkan senjata, kuda, dan kereta ke hutan Nandawa.
Adapun pupuh LIV (1) mencatat raja mengendarai kereta kencana yang ditarik lembu mengejar buruan yang lari ketakutan di hutan belantara.
Negarakertagama menjabarkan kegiatan berburu oleh rombongan kerajaan acap kali dilakukan di sela perjalanan ke daerah kekuasaan.
Mereka berburu di hutan yang tak jauh dari permukiman desa yang kemungkinan bermotif rekreasi dan mencari kesenangan.
Menurut Siswanto, bait pupuh dalam kakawin karya Empu Prapanca itu mirip dengan gambaran dalam relief Candi Sukuh di Karanganyar yang menunjukkan adegan bangsawan sedang berburu dengan naik kuda dan di tangan kanan memegang senjata.
”Di belakangnya sedang berjalan juga tampak seorang bangsawan yang dilukiskan dengan berpenutup kepala serta dipayungi, sedangkan pada bagian depan para bala dan seekor anjing pemburu siap memburu,” tuturnya. (adi/ris)
Editor : Martda Vadetya