UMAT muslim akan menunaikan ibadah bulan puasa Ramadan mulai pekan depan. Sejumlah catatan sejarah menunjukkan, agama Islam telah eksis pada masa Kerajaan Majapahit.
Salah satunya ditandai dengan keberadaan Masjid Agung di Wilwatikta, ibu kota Majapahit yang diyakini berada di kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Tommy Raditya Dahana menjelaskan, kehidupan komunitas muslim di pusat Majapahit tergambar dalam sejumlah sumber sejarah.
Salah satunya seperti yang ditulis dalam Kidung Sunda atau Sundayana. Karya sastra berbahasa Jawa pertengahan berupa tembang/syair itu menceritakan prahara pernikahan Raja Majapahit Hayam Wuruk dengan putri Sunda Dyah Pitaloka pada abad ke-14.
Peristiwa itu dikenal dengan istilah Perang Bubat. ’’Dalam cerita ini nama masjid sempat beberapa kali disebut,’’ katanya.
Menurut Tommy, keberadaan tempat ibadah pemeluk agama Islam semasa kerajaan yang eksis 700 tahun silam itu antara lain tertuang dalam penggalan kisah kedatangan rombongan dari Sunda.
Berikut petikannya: patang wiji kang inutus, danta ning sunda apatih, anepaken lawan demung tumenggung, (ng)aran pangulu Borang, mwang pitar apatih, wong sinaring umiringa wonten tigang atus, lampah ikangidul ndatan asari, pada agagancangan jumog eng Masigit-Agung.
Tommy melanjutkan, narasi tersebut memiliki arti,’’Empat dari mereka yang dikirim, Patih Sunda, Anepaken para Demung, Tumenggung yang berjuluk penghulu Borang, dan Patih Pitar yang menemaninya, para prajurit terpilih berjumlah tiga ratus orang berjalan ke arah selatan, mereka melaju terus tanpa berhenti hingga ke Masjid Agung’’.
”Menurut ahli Jawa kuno S.O. Robson dalam catatannya tentang Kidung Sunda, tidak ada arti lain dari Masigit Agung itu selain “Masjid Agung”,” imbuhnya.
Meski termasuk karya sastra, Kidung Sunda tetap mengandung kebenaran faktual. Kisah yang dirangkai berasal dari pengalaman riil penulisnya.
Karena itu, Tommy menyatakan, Kidung Sunda dikelompokkan dalam jenis karya sastra bersifat historis. ’’Pengelompokan ini dilakukan oleh pakar sastra Jawa P.J. Zoetmulder,’’ ujarnya.
Dia menjelaskan, kisah dalam kidung tersebut selaras dengan catatan penjelahan Portugis Tome Pires ketika datang ke Jawa pada awal abad ke-16.
Dalam bukunya Suma Oriental, Pires mengaku menyaksikan komunitas muslim di Jawa telah membangun rumah ibadahnya sendiri, yaitu masjid.
’’Hanya saja, hingga saat ini belum ditemukan bukti arkeologis yang ditemukan mengenai masjid kuno dalam lingkungan keraton Majapahit itu,’’ tandasnya. (adi/fen)
Editor : Martda Vadetya