MASYARAKAT di masa Kerajaan Majapahit mengatasi kegelapan malam dengan celupak sebagai alat penerangan rumah. Teknologi lampu tradisional itu memanfaatkan cahaya api yang bersumber dari bahan bakar minyak.
Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Tommy Raditya Dahana menjelaskan, celupak biasanya terbuat dari bahan tanah liat, kuningan, dan logam. Fungsi utama benda ini sebagai penerangan sebelum adanya listrik.
’’Celupak dinyalakan dengan sumbu dan minyak nabati atau minyak tanah sebagai bahan bakarnya,’’ kata dia.
Celupak terakota yang terbuat dari proses pembakaran tanah liat merupakan salah satu lampu minyak tradisional yang paling banyak digunakan penduduk Majapahit.
Bentuk cenderung sederhana berupa wadah bundar atau lonjong dengan cerat kecil yang menjadi tempat meletakkan sumbu.
Komponen sumbu ini dibuat dari bahan serat alami seperti kelapa dan kapas. Saat dinyalakan, sumbu akan menyerap minyak yang berada di bagian bawah.
Tommy mengungkapkan, berbagai bentuk celupak terakota ditemukan di Trowulan yang diyakini sebagai bekas ibu kota Majapahit. Salah satunya pelita kuno bermotif hias dan berkatakter figuratif.
’’Seperti motif kepala binatang, yang menunjukkan pengaruh simbolik atau artistik dalam pembuatannya,’’ jelasnya.
Studi menunjukkan, celupan tak hanya berfungsi sebagai penerangan di dalam rumah. Ukurannya yang kecil dan ringan juga memungkinkan untuk dibawa saat bepergian pada malam hari.
’’Benda ini memang berguna sebagai penerangan praktis,’’ tandas Tommy. (adi/fen)
Editor : Martda Vadetya