TATA rambut alias hairstyle menjadi bagian yang tak telepas dari gaya berbusana perempuan Majapahit. Mereka memiliki berbagai macam model penataan rambut yang masing-masing disesuaikan dengan konteks kegiatan. Di masa itu, gaya rambut sanggul asimetris menjadi model yang paling populer.
Gambaran mengenai hairstyle Majapahit terlihat dari patung-patung figurin serta relief candi peninggalan kerajaan yang eksis 700 tahun silam tersebut. Dari berbagai benda arkeologis itu, dapat diketahui beragam gaya rambut pada perempuan.
’’Yang paling sederhana rambutnya diurai atau dibiarkan tergerai begitu saja,’’ kata arkeolog DS Nugrahani dalam webinar bertajuk Tata Rambut dan Busana Perempuan di Wilwatikta yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI.
Menurutnya, rambut terurai berkaitan dengan konteks kegiatan saat berada di rumah atau memasak. Gaya itu seperti yang tampak pada relief umpak tiang di Trowulan, Kabupaten Mojokerto. ’’Tapi sepertinya sekarang jarang yang diurai saat masak, mungkin diikat,’’ imbuhnya.
Relief Candi Panataran di Blitar juga memberi petunjuk tentang model rambut perempuan Majapahit. Pada dinding batur pendopo II itu terdapat lukisan empat perempuan dengan rambut terurai dan disanggul.
Nugrahani mengatakan, gaya sanggul memiliki bermacam bentuk. Dari yang paling sederhana rambu ditarik ke atas lalu digelung. Berikutnya sanggul dengan elaborasi gaya keriting pada tepiannya.
Selanjutnya terdapat sanggul yang ditarik ke bagian kepala belakang layaknya pramugari. ’’Kemudian ada juga gaya rambut diikat dan digulung di kanan dan kiri kepala,’’ imbuhnya.
Dari beragam model penataan rambut itu, lanjut Nugrahani, gaya sanggul asimetris jadi yang paling populer.
Rambut dengan gaya ini disanggul ke salah satu sisi dengan bentuk cukup tinggi sehingga terlihat modis. Dari belakang, sisa rambut dibuat bentuk terurai yang memiliki kesan elegan.
’’Dari temuan-temuan terakota figurin, sanggul asimetris ini paling banyak ditemukan. Ini paling populer,’’ tandas dosen Departemen Arkeologi UGM tersebut. (adi/fen)
Editor : Martda Vadetya