Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Teknologi Jaladwara Era Majapahit, Pancuran Air sekaligus Pencegah Candi Terhindar Banjir

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 3 Januari 2026 | 20:31 WIB
KOKOH: Bangunan Candi Tikus dari masa sekitar 700 tahun masih berdiri hingga kini. Keberadaan jaladwara sebagai saluran pembuangan air ikut menjaga bangunan tetap awet.
KOKOH: Bangunan Candi Tikus dari masa sekitar 700 tahun masih berdiri hingga kini. Keberadaan jaladwara sebagai saluran pembuangan air ikut menjaga bangunan tetap awet.

KERAJAAN Majapahit dikenal memiliki sistem pengendalian banjir yang apik. Kemahiran mengelola air itu salah satunya ditunjukkan dengan keberadaan jaladwara di candi dan situs petirtaan. Instalasi pancuran air tersebut membuat candi tak mudah tergenang dan menjaga bangunan dari ancaman kerusakan.

Jaladwara umumnya ditemukan pada situs dari abad ke-9 seperti Candi Borobudur di Magelang. Elemen berbahan batu andesit ini terpasang di titik tertentu, khususnya sudut bangunan candi.

Memiliki lubang layaknya corong, jaladwara berfungsi memancurkan air hujan supaya tidak menggenangi struktur bangunan candi.

’’Jaladwara ini menjadi saluran pembuangan air di candi dan situs-situs petirtaan, wujudnya berupa pancuran air,’’ kata Ketua Perkumpulan Peduli Majapahit Gotrah Wilwatikta Anam Anis, kemarin.

Hingga memasuki masa Kerajaan Majapahit, jaladwara masih menjadi komponen penting pada bangunan suci. Di antara dapat ditrmukan pada konstruksi Candi Tikus di Dusun Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

 

 

Situs yang dibangun antara abad ke-13 sampai 14 itu memiliki banyak jaladwara yang melekat di dindingnya. Tak hanya sebagai hiasan, komponen ini memiliki peran penting untuk menjaga bangunan tak tergenang air hujan.

Berbeda dengan saluran pembuang di zaman sekarang, jaladwara memiliki bentuk yang estetik. Bentuknya bisa berupa makara alias makhluk mitologi Hindu atau ornamen hewan dengan lubang air di bagian mulut.

 

 

Selain memiliki fungai vital mencegah banjir, keberadaan jaladwara juga melindungi candi dari pelapukan. Dengan menyalurkan air keluar dari area candi secara konsisten, bangunan menjadi lebih awet dan bisa berdiri hingga kini setelah 700 tahun lebih.

TEKNOLOGI KUNO: Jaladwara di Candi Tikus, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, berfungai sebagai pancuran air.
TEKNOLOGI KUNO: Jaladwara di Candi Tikus, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, berfungai sebagai pancuran air.

’’Dan terbukti bangunan-bangunan dari masa Majapahit masih utuh, lebih awet bahkan dibanding bangunan sekarang,’’ ujarnya.

Menurut Anis, penerapan teknologi jaladwara pada candi dan situs petirtaan melengkapi khazanah sistem pengendalian air yang terintegrasi dengan bangunan kolam dan drainase.

 

 

’’Memang saluran air dan antarkolam di masa itu tersambung lewat pipa-pipa terakota. Selama ini juga banyak temuan saluran-saluran air kuno dari masa Majapahit,’’ tuturnya. (adi/fen)

Editor : Martda Vadetya
#candi tikus #majapahit #banjir #teknologi #candi borobudur #wilwatikta #candi