KERAJAAN Majapahit tak hanya dikenal karena kemajuannya dalam bidang pertanian dan maritim. Monarki yang diyakini beribu kota di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, itu juga masyhur lewat perdagangan internasional.
Konon, komoditas rempah-rempah yang menjadi buruan saudagar Eropa telah dimonopoli pedagang Majapahit.
Riwayat perniagaan di Majapahit ini tertuang dalam catatan pendeta Italia Odorico Mattiuzzi da Pordedone ketika melancong ke Jawa sekitar 1321-1322 Masehi.
Ingatan perjalanan itu diceritakan Odorico kepada sejawatnya, William de Solona, pada 1330 Masehi yang kemudian dituangkan dalam manuskrip Relatio de mirabilibus orientalium Tatarorum.
Melalui kroniknya itu, Odorico menyaksikan di Jawa berlimpah cengkih, kemukus, buah pala, dan segala macam rempah lainnya.
”Jelas yang namanya cengkih, pala, tidak tumbuh di Jawa,” kata Daya Negri Wijaya, dosen sejarah Universitas Negeri Malang dalam seminar Wilwatikta Acarita 2025 yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI, 14 November lalu.
Menurutnya, Jawa menguasai perdagangan rempah dari Malaka hingga Maluku pada abad ke-15 Masehi sebagaimana pengalaman penjelajah portugis Alfonso de Albuquerque yang menguasai Nusantara.
Dengan runtutan sejarah ini, pada abad sebelumnya, Jawa yang masih dikuasai Majapahit semasa Raja Jayanegara dimungkinkan juga telah memonopoli perdagangan rempah.
”Ada kemungkinan Jawa menjadi pedagang yang sangat memonopoli rempah karena menjadi perantara antara Malaka dan Maluku,” tuturnya.
Baca Juga: Menelusuri Rute Perdagangan Laut dan Jejak Uang Kuno Majapahit
Menurutnya, komoditas rempah yang berada di Majapahit berasal dari Maluku dan Banda. Sebab, di tanah Jawa kala itu belum ada tanaman seperti pala dan cengkih.
”Hal yang sama juga disampaikan di beberapa sumber informasi seperti Yuan Shi (naskah sejarah Tiongkok kuno), Prasasti Balawi, juga Kitab Negarakertagama,” tandasnya.
Asumsi Majapahit sebagai pemegang kendali perdagangan rempah lintas wilayah tampaknya dapat didukung dengan keberadaan berbagai pelabuhan ekspor impor milik kerajaan tersebut.
Salah satunya Pelabuhan Tuban yang menjadi tempat persinggahan utama saudagar luar negeri. Pada masa itu, komoditas dagang didominasi hasil bumi, tekstil, dan mineral.
”Komoditas perdagangan Majapahit antara lain berupa beras yang diekspor ke Maluku dan Tiongkok, lada dari Pacitan yang dibawa ke pelabuhan Tuban dan kemudian dikirim ke Tiongkok, dan komoditas lainnya yang dikirim melalui Tuban. Seperti rempah-rempah, mutiara, kulit penyu, emas, perak, kayu cendana, tebu, pisang, kelapa, kapuk, kain katun, sutera, belerang, dan lain-lain,” jelas Pamong Budaya Pertama BPKW XI Tommy Raditya Dahana. (adi/ris)
Editor : Martda Vadetya