Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Bangun Rumah Panggung Tahan Gempa, Teknologi Konstruksi di Era Majapahit

Yulianto Adi Nugroho • Minggu, 12 Oktober 2025 | 01:50 WIB
KUNO: Replika rumah tapak dari masa Kerajaan Majapahit yang dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah di Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan. (foto: dok. JPRM)
KUNO: Replika rumah tapak dari masa Kerajaan Majapahit yang dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah di Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan. (foto: dok. JPRM)

AMBRUKNYA bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo dan menimpa ratusan santri menimbulkan pertanyaan tentang aspek keamanan konstruksi era kiwari.

Di masa lampau, Kerajaan Majapahit telah memperhitungkan secara matang bagaimana mendirikan bangunan yang aman bagi penghuninya, terutama agar terhindar dari ancaman bencana alam, seperti gempa bumi dan banjir.

Teknologi yang diterapkan para ”insinyur teknis sipil” zaman Majapahit antara lain adalah dengan membuat bangunan panggung.

Jenis bangunan ini paling banyak diterapkan dalam bentuk rumah yang menjadi tempat tinggal sehari-hari.

”Selain rumah, konsep panggung juga ada pada bangunan pendapa besar dan balai atau kalau sekarang gazebo,” kata Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Tommy Raditya Dahana di Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

 

 

Bentuk bangunan panggung itu tergambar dalam beberapa situs candi peninggalan Majapahit.

Salah satunya panil relief Candi Sukuh di Karanganyar, Jawa Tengah, yang menunjukkan bangunan menyerupai gazebo atau saung.

Ditopang dengan empat tiang berbahan kayu, bangunan yang terindikasi sebagai tempat pertemuan penduduk itu memiliki panggung yang tak terlalu tinggi dari tanah.

 

 

Bentuk bangunan serupa juga terdapat pada panil relief Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, yang berasal dari masa sebelum Majapahit.

Menurut Tommy, konstruksi rumah panggung memungkinkan bangunan tahan terhadap gempa, karena memiliki kolong di bawah lantai.

Kondisi itu membuat bangunan lebih elastis karena tidak terguncang langsung oleh gerakan tanah.

Rangka bangunan dari masa Majapahit yang disambung menggunakan pasak dari kayu atau bambu turut meminimalkan dampak getaran. Tak sekaku apabila dipaku, pasak membuat struktur bangunan lebih lentur.

 

 

”Pastinya di masa itu masih menggunakan pasak yang sekarang juga masih dipakai masyarakat tradisional. Alat ini juga membuat bangunan jadi mudah dibongkar pasang," jelasnya.

Selain meminimalkan dampak gempa, konsep rumah panggung juga efektif mencegah kebanjiran.

Meski rumah tapak banyak bermunculan pada masa akhir Kerajaan Majapahit, bangunan ini tetap dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah.

Caranya dengan menumpuk batu bata hingga ketinggian sekitar 40 sentimeter di atas tanah sebagai landasan bangunan. Konsep tersebut membuat genangan air tidak mudah masuk rumah. (adi/ris)

Editor : Martda Vadetya
#rumah majapahit #pendapa #sidoarjo #Gazebo #trowulan #teknologi #rumah tahan gempa #candi borobudur #Candi Sukuh #kerajaan majapahit