BUKAN hanya soal tekniknya yang rumit, tahapan produksi gerabah terakota juga menjadi tantangan tersendiri.
Perajin Majapahit setidaknya harus melewati empat langkah demi menghasilkan perabotan rumah dari tanah liat.
Pembuatan gerabah terakota, menurut Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Tommy Raditya Dahana, dimulai dari proses penyiapan bahan.
Langkah awal ini meliputi pembersihan adonan terakota dari kotoran organik dan mencampurnya dengan beberapa bahan dasar.
’’Dari situ baru masuk ke tahap kedua, yakni proses pembentukan dengan berbagai teknik yang telah dikenal,’’ ujarnya.
Setelah gerabah terbentuk, selanjutnya penggarapan permukaan. Proses ini biasanya dilakukan ketika masih mentah alias belum dibakar atau dibakar namun setengah matang.
’’Proses ini untuk penghalusan permukaan dan pemberian hiasan, tekniknya pun macam-macam,’’ imbuhnya.
Gerabah yang telah terbentuk secara sempurna selanjutnya dikeringkan. Pada masa 700 tahun silam itu, proses ini dilakukan secara manual, yakni dengan diangin-anginkan atau dijemur langsung di bawah sinar matahari.
Tommy menyatakan, tahapan terakhir yang paling menentukan setelah proses itu semua adalah pembakaran. ’’Fase ini krusial karena jadi penentu kualitas dan daya tahan gerabah,’’ tandasnya.
Proses pembakaran gerabah terakota melalui tahan dehidrasi alias penyerapan unsur air sekaligus oksidasi.
Sesuai dengan peruntukannya, teknik pembakaran dapat dilakukan dengan cara pembakaran bersuhu rendah dan bersuhu tinggi. ’’Ini biasanya disesuaikan dengan jenis gerabah yang dibuat,’’ ucap dia. (adi/fen)
Editor : Martda Vadetya