SEMENTARA itu, unsur penyusun bangunan Majapahit dibuat dengan aneka bahan yang didapat dari alam.
Atap rumah biasanya menggunakan bahan ijuk, jerami, atau kayu. Sedangkan badan dan kakinya memakai kayu.
Khususnya kaki, beberapa bagian juga memanfaatkan batu dan terakota yang dibuat dari tanah liat.
”Di masa Majapahit tentunya masih alami semua. Masyarakat mengolah bahan yang didapat dari alam menjadi komponen bangunan,” jelas Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Tommy Raditya Dahana.
Ijuk yang terbuat dari serat pelepah aren hingga kini masih banyak digunakan sebagai atap bangunan tradisional di Bali.
Ijuk, sebagaimana jerami, muncul pada masa awal dan pertengahan Majapahit. Ketika memasuki masa akhir kerajaan, para perajin sudah mampu memproduksi genting dari bahan tanah liat.
”Dari yang awalnya ijuk akhirnya berubah jadi genting yang dibakar,” ucapnya.
Mengenai rangka bangunan, masyarakat dari kerajaan yang eksis di abad ke-13 sampai ke-16 Masehi itu menggunakan bahan kayu yang didapat dari hutan.
Kayu-kayuan juga dipakai untuk membuat elemen lain, seperti lantai papan ataupun undakan. Adapun umpak yang menjadi bantalan tiang kayu terbuat dari batu andesit.
”Ini melindungi kayu dari pelapukan karena air dan suhu lembab,” imbuh Tommy.
Selain dijadikan genting, penduduk Majapahit juga telah memiliki kemampuan mengolah tanah liat menjadi batu bata.
Melalui proses pembakaran sempurna, tercipta batu bata yang antara lain menjadi lantai bangunan hingga dinding candi. (adi/ris)
Editor : Martda Vadetya