Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Punya Peran Penting, Sungai Brantas dan Sungai Bengawan Solo Jadi Jalur Perdagangan Era Majapahit

Yulianto Adi Nugroho • Minggu, 3 Agustus 2025 | 03:13 WIB
DIANDALKAN: Sungai Brantas yang melintasi wilayah Mojokerto menjadi jalur strategis pada masa Kerajaan Majapahit. (foto: JPRM)
DIANDALKAN: Sungai Brantas yang melintasi wilayah Mojokerto menjadi jalur strategis pada masa Kerajaan Majapahit. (foto: JPRM)

SUNGAI Brantas dan Bengawan Solo menjadi jalur perdagangan dan mobilitas masyarakat Majapahit.

Padatnya lalu lintas di dua sungai yang mengular di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur itu menjadi penanda denyut nadi perekonomian kerajaan.

Seorang budayawan di Kota Mojokerto pernah mengatakan Sungai Brantas semasa Majapahit tak dibayangkan seperti masa kini.

Di masa lalu, sungai terpanjang kedua di Jawa itu memiliki lebar sampai 2 kilometer. Ukuran itu berbeda jauh dengan lebar Sungai Brantas sekarang yang hanya sekitar 150 meter.

Besarnya Sungai Brantas secara harfiah didukung dengan data arkeologis yang menunjukkan betapa vitalnya aliran sungai ini kala Majapahit.

Salah satunya Prasasti Canggu yang berisi peraturan melintas dan menyeberang di Sungai Brantas dan Sungai Bengawan Solo.

”Prasasti ini dikeluarkan Raja Hayam Wuruk dengan tulisan tahun 1358 Masehi,” ungkap Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya Dahana.

Canggu tak lain adalah satu di antara sekian pelabuhan sungai di sekitar Brantas yang terbentuk seiring lalu lintas penyeberangan.

Canggu menjadi tempat naik turunnya barang yang diangkut pedagang menggunakan perahu lewat sungai menuju Kota Majapahit maupun pelabuhan di pesisi utara Jawa.

”Sungai Brantas, begitu juga dengan Bengawan Solo jadi penyambung daerah pedalaman dengan pelabuhan di Tuban, Gresik, Sidhayu, dan Surabaya,” jelasnya.

Adapun komoditas kala itu meliputi hasil bumi, hewan ternak, logam, hingga produk industri tekstil.

Barang-barang dari wilayah Majapahit itu didistribusikan ke pelabuhan lewat sungai untuk diekspor ke luar negeri dan sebagian Nusantara.

”Pada masa itu pelabuhan juga disinggahi saudagar dari Tiongkok, India, Burma, Kamboja, dan Champa yang membawa dagangan kain sutra, tenun, hingga keramik,” tutur Tommy. (adi/ris)

Editor : Martda Vadetya
#pelabuhan #sungai brantas #produk industri #sungai bengawan solo #majapahit #jawa timur #pedagang #jawa tengah #raja hayam wuruk #komoditas #Prasasti Canggu