MASYARAKAT Kerajaan Majapahit mengandalkan perahu kayu sebagai sarana transportasi air.
Mobilitas mereka ditopang dengan keberadaan Sungai Brantas dan Bengawan Solo yang menjangkau separuh pulau Jawa.
Pada masa kerajaan yang eksis 700 silam itu, sungai sama ramainya dengan daratan.
Selain melintasi jalan darat, masyarakat juga banyak menggunakan jasa perahu untuk menyeberang atau pergi ke tempat tujuan.
Informasi menganai sarana transportasi air dan darat di zaman lampau tercantum dalam prasasti, naskah, dan relief candi.
Salah satunya relief Lalitavistara di Candi Borobudur yang menggambarkan kereta kuda beroda empat sedang mengangkut bangsawan.
Adapun Kitab Negarakertagama merinci aneka macam kereta dan pedati yang ditarik kuda.
”Dalam catatan arkeologis ada pula gerobak yang ditarik lembu atau sapi untuk mengangkut hasil panen dan barang dagangan,” kata Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Tommy Raditya Dahana.
Khusus angkutan air, lukisan dinding Borobudur juga memberi petunjuk. Di sana tergambar beberapa jenis angkutan air.
Seperti kapal dagang besar dengan layar dan cadik ganda. Selain itu, terdapat wujud perahu tanpa cadik yang dilengkapi penutup di atasnya, serta sebuah perahu dengan dayung dan layar tak bercadik.
”Keberadaan perahu di masa Majapahit erat kaitannya dengan Sungai Brantas dan Sungai Bengawan Solo yang merupakan dua sungai terpanjang di Jawa,” jelasnya.
Menurut Tommy, perahu-perahu Majapahit terbuat dari kayu. Meski masih sederhana, alat transportasi ini mampu memenuhi kebutuhan jaringan lalu lintas air di kedua sungai serta kanal-kanalnya.
Bentuk perahu kuno yang digunakan masa itu setidaknya dapat ditengok dari temuan arkeologis di Rembang, Jawa Tengah.
Adalah Situs Perahu Punjulharjo yang ditemukan di Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang.
Merujuk laman Kebudayaan Kemendikbud, perahu kuno itu ditemukan 2008 silam oleh penduduk yang sedang menggali tanah di sekitar pantai untuk tambak garam.
Terkubur di kedalaman 2 meter, perahu memiliki panjang 17,9 meter dengan lebar 5,6 meter.
”Analisis radiokarbon terhadap sampel tali ijuk perahu menunjukkan bahwa perahu kuno ini berasal dari abad ke-7 sampai 8 Masehi,” tuturnya.
Dengan asumsi demikian, perahu tersebut lebih tua dari Majapahit yang berdiri pada periode abad ke-13 sampai 16 Masehi.
Namun, di dekat penemuan kapal juga terdapat sungai kuno dari masa Majapahit.
Para peneliti penyimpulkan, perahu kuno Punjulharjo terbuat dari bahan kayu ulin. Teknik pembuatannya menggunakan teknologi penyambungan antarpapan, teknik papan ikat, dan kupingan pengikat.
Temuan perahu yang terpendam ratusan tahun ini disebut sebagai penanda penting dalam penyusunan kerangka budaya maritim Nusantara.
Di samping umurnya yang tua, juga satu-satunya perahu kuno yang pernah ditemukan di Asia Tenggara dengan kondisi relatif utuh.
”Ukurannya yang besar menyiratkan bahwa perahu itu digunakan untuk keperluan pelayaran jarak jauh,” tandasnya. (adi/ris)
Editor : Martda Vadetya