JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Gajah Mada adalah sosok tangguh, cerdas, dan hebat dibalik kemegahan serta kejayaan kerajaan terbesar di Nusantara yang diketahui bernama kerajaan Majapahit.
Gajah Mada dikenal sebagai tokoh sentral dalam sejarah Majapahit karena aksinya yang heroik, cerdik, dan sebagai pengucap sumpah palapa serta misinya untuk menyatukan Nusantara.
Pribadinya yang tangguh, taktis, dan memiliki kemampuan memimpin yang tinggi membuat Tribhuwana Tunggadewi dibantu persetujuan Gayatri Rajapatni mengangkat Gajah Mada menjadi seorang Mahapatih kerajaan Majapahit.
Di puncak kekuasaannya, ia adalah seorang yang disegani dan dihormati karena dianggap sebagai pemimpin atau mahapatih yang membawa kejayaan besar.
Namun, menjelang masa senjanya, Gajah Mada menghilang dari catatan sejarah secara perlahan-lahan.
Tidak seperti pemimpin lain yang menghilang karena wafat dalam peperangan atau istana, Gajah Mada menghilang tanpa jejak seperti ditelan bumi.
Menghilangnya mahapatih Gajah Mada terjadi setelah berakhirnya perang bubat pada tahun 1357 masehi yang melibatkan kerajaan majapahit dan kerajaan sunda.
Perang ini dipicu oleh kekeliruan Gajah Mada yang beranggapan bahwa pernikahan antara Hayam Wuruk dan Putri Dyah Pitaloka dari kerajaan Sunda adalah bentuk penyerahan diri kerajaan Sunda kepada Majapahit, bukan pernikahan biasa.
Baca Juga: Mitos Naga dan Simbolisme dalam Kerajaan Majapahit! Yuk Baca Selengkapnya!
Hal ini justru membuat kerajaan Sunda tidak terima karena merasa terhina dan diperlakukan secara tidak hormat. Kerajaan Sunda menolak usulan tersebut dan terjadilah perang bubat.
Terjadinya perang ini membawa pengaruh yang sangat besar terhadap nasib kepemimpinan Gajah Mada.
Karena setelah kejadian itu, dalam naskah sejarah pararaton disebut bahwa Gajah Mada berhenti dari jabatannya sebagai mahapatih.
Ia tidak disebutkan maupun ditampilkan dalam seluruh kegiatan kenegaraan pada masa kekuasaan Hayam Wuruk selanjutnya, yang mana hal ini menandakan penarikan diri Gajah Mada secara politis.
Kejadian berhentinya Gajah Mada setelah kekeliruannya yang memicu peperangan ini mencerminkan tradisi politik Jawa.
Dimana ketika seorang tokoh melakukan kesalahan fatal, dia tak selalu dihukum secara terbuka. Tetapi didorong untuk mengasingkan diri demi menjaga martabat dan keseimbangan kerajaan.
Di masa pengasingan dirinya, Gajah Mada memilih untuk melakukan kegiatan spiritual yang kuat yakni Tapa Brata.
Tapa Brata sendiri memiliki arti sebuah laku atau praktik yang dilakukan untuk pengendalian diri dan pemusatan pikiran. Hal ini bertujuan untuk mencapai ketenangan batin dan kesadaran diri yang lebih tinggi.
Gajah Mada melakukan praktik ini juga untuk mencari pencerahan, pengampunan, dan penyucian atau pemurnian ini. Untuk memfokuskan dirinya, Gajah Mada memilih beberapa tempat khusus untuk dirinya bertapa.
Beberapa tempat tersebut adalah gunung penanggungan, candi tikus, candi bajang ratu, dan lembah brantas.
Selain tempat-tempat tersebut, Gajah Mada juga bertapa di air terjun Madakaripura yang terletak di Probolinggo, Jawa Timur.
Air terjun ini dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir sekaligus tempat Gajah Mada mencapai moksa, yakni menghilang secara spiritual untuk selamanya tanpa meninggalkan jasad fisik menurut kepercayaan sebagian masyarakat.
Baca Juga: Upacara Keagamaan dan Religi di Era Majapahit: Hindu-Buddha dalam Harmoni
Hal ini juga dianggap berkaitan erat dengan nama dari air terjun Madakaripura yang memiliki makna cukup dalam, yakni mada yang diambil dari nama Gajah Mada, Kari yang berarti peninggalan, dan Pura yang berarti tempat suci.
Dan jika digabungkan, Madakaripura berarti tempat suci peninggalan Gajah Mada. Ia melakukan semedi terakhirnya dibalik air terjun, tepatnya di sebuah ceruk yang masih dapat dilihat hingga kini.
Meski hilangnya Gajah Mada tidak meninggalkan jejak seperti prasasti pemakaman dan jasad fisik, pengaruhnya sebagai pemimpin yang tangguh tetap ada hingga saat ini.
Gajah Mada memang tak terkubur dalam tanah, namun hidup dalam jiwa negeri yang pernah ia satukan dengan seluruh usahanya.
FANEZA
Editor : Imron Arlado