TRADISI membaca dan menulis pada masa Kerajaan Majapahit mewariskan budaya literasi dan sarat pengetahuan teknologi.
Penulis zaman lampau mampu menyulap daun lontar menjadi kertas dan menggunakan pisau kecil sebagai pensil pengukir.
Khazanah mengenai bagaimana sastrawan zaman dahulu menorehkan karyanya telah banyak ditelisik peneliti.
Penemuan lembaran-lembaran kitab kuno menjadi bukti tradisi mencatat pada masa kerajaan 700 tahun silam tersebut.
Tentu selain dalam bentuk kitab, masyarakat Majapahit juga menulis prasasti di batu dan logam.
Khusus kitab, media yang digunakan sebagai kertas adalah daun lontar. Daun jenis ini diperoleh dari pohon lontar alias siwalan atau palma yang banyak tumbuh di Asia Tenggara.
’’Proses mengolah daun kering jadi media tulis ini cukup panjang,’’ kata Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya Dahana.
Mula-mula daun lontar yang telah dikeringkan direndam air panas. Konon masyarakat Majapahit mencampurkan rempah dan bahan lain ke dalam rendaman.
Setelah beberapa waktu, daun lontar hasil perendaman dijemur hingga mengeras seperti kayu.
Daun yang sudah kaku kemudian digosok sampai halus dan mengkilap. ’’Proses ini bisa memakan waktu beberapa hari,’’ ucapnya.
Tradisi pembuatan daun lontar menjadi kertas saat ini masih terjaga di sejumlah daerah, salah satunya Bali.
Di sana, proses pengolahannya bahkan memakan waktu berbulan-bulan. Daun lontar yang telah dipisahkan dari lidinya direndam selama tiga minggu sampai aroma busuhnya hilang dan tak berwarna keruh lagi.
Selanjutnya daun direbus selama 8 jam menggunakan air berisi tumbukan rempah kapulaga, jahe, cengkeh, dan pala.
Setelah itu, daun diluruskan dengan alat pres selama 6 bulan untuk kemudian di beli lubang dan diberi garis.
Uniknya, lembaran daun ini maksimal hanya memiliki lebar 4 sentimeter dengan panjang sekitar 40 sentimeter.
Karena itu, Tommy menuturkan, untuk menjadikannya sebagai kitab dengan jilidan yang rapi dibutuhkan waktu lebih lama lagi.
’’Selain dipakai untuk menulis kitab oleh pujangga, urusan surat menyurat kerajaan kemungkinan juga menggunakan lontar,’’ jelasnya.
Lalu, dengan cara apa masyarakat Majapahit menulis? Di abad ke-13 sampai 16 itu, pensil atau pena dengan tinta belum dikenal sebagai alat tulis.
Walhasil para penulis menggunakan cara ukir untuk menggoreskan askasa. Ya, berbekal alat semacam pisau kecil yang disebut pengutik, huruf demi huruf kawi diguratkan ke lembaran lontar.
Uniknya, saat proses menulis, penulis tak menggerakkan tangan ke kanan. Melainkan kertasnya yang ditarik ke kiri dengan tangan yang tak memegang pengutik.
’’Besar kemungkinan aktivitas menulis di daun lontar ini sudah ada sejak era sebelum Majapahit,’’ tandas Tommy. (adi/fen)
Editor : Martda Vadetya