JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Majapahit dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar di Asia Tenggara. Majapahit mencapai kekuasaannya pada abad ke 14-15 masehi di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.
Meski sering dikaitkan dengan kekuatan militernya yang unggul dan kuat, namun penyatuan wilayah Nusantara yang dilakukan oleh Mahapatih Gajah Mada dengan sumpah palapanya tidak semata-mata dicapai dengan kekuatan militer.
Melainkan dicapai dengan cara yang damai yaitu melalui strategi diplomasi yang cermat, terstruktur, variatif, dan diplomatif.
Strategi diplomasi yang dilakukan oleh kerajaan Majapahit ini menjadi bukti bahwa kekuasaan dapat dibangun tidak semata-mata dengan melakukan peperangan, tapi dengan pendekatan politik, budaya, dan ekonomi.
Mereka melakukan strategi diplomasi dengan cara membangun aliansi bersama kerajaan-kerajaan kecil dan penguasa lokal. Hal ini menjadi kunci perluasan wilayah majapahit tanpa harus melakukan perang.
Diplomasi majapahit dilakukan melalui perkumpulan utusan untuk berunding, serta pemberian gelar kebangsawanan atau jabatan resmi untuk penguasa kerajaan bawahan dari Majapahit.
Gelar atau jabatan tersebut, seperti Adipati atau Tumenggung, diberikan sebagai tanda pengakuan dan penegasan bahwa mereka termasuk dalam struktur pemerintahan Majapahit.
Tak hanya diberikan kepada penguasa kerajaan, gelar ini juga diberikan kepada putra/putri bangsawan sebagai bentuk legitimasi atau pengakuan kekuasaan mereka sebagai wakil raja Majapahit di daerahnya masing-masing.
Majapahit juga menggunakan diplomasi berdarah dingin untuk menyatukan Nusantara yaitu dengan melakukan perkawinan politik. Cara ini juga menjadi strategi utama kerajaan Majapahit dalam menyatukan Nusantara.
Dengan menikahkan anggota keluarga kerajaan Majapahit dengan keluarga kerajaan yang menjadi sasaran, dapat menjalin serta mempererat hubungan antar kerajaan sehingga lebih mudah untuk diajak bergabung secara damai.
Baca Juga: Sumpah yang Ditunaikan: Perjalanan Hayam Wuruk Membawa Majapahit ke Puncak
Namun, strategi unggulan ini juga pernah mengalami kegagalan saat Hayam Wuruk ingin menikahi Putri Dyah Pitaloka dari kerajaan sunda namun gagal karena memicu terjadinya insiden perang bubat.
Peran penting Majapahit sebagai pengatur jalur perdagangan regional dan penguasa pelabuhan-pelabuhan strategis di Nusantara juga mempermudah strategi perluasan wilayah yang dilakukan oleh Gajah Mada.
Dominasi Majapahit terhadap bidang ekonomi pengelolaan perdagangan komoditas vital memperkuat posisi diplomatik Majapahit di wilayah timur Indonesia terutama Maluku dan Makassar.
Wilayah lain akhirnya tertarik menjalin kerja sama karena adanya akses ke komoditas penting dan mendapat keuntungan, mereka bersedia menjalin hubungan dengan Majapahit tanpa adanya peperangan.
Strategi ini juga membuat wilayah lain ketergantungan ekonomi terhadap kerajaan Majapahit, membuat wilayah lain lebih memilih bergabung daripada melawan.
Majapahit juga secara aktif menyebarkan budaya Jawa, Hindu, dan Budha ke wilayah-wilayah lain, penyebaran ini tidak memaksa, tapi melalui jalur seni, sastra, dan keagamaan.
Contohnya seperti Bahasa Kawi yang menjadi bahasa administratif dan sastra di banyak wilayah. Ajaran Hindu Buddha juga disebarkan melalui bangunan-bangunan seperti candi, seni tari, wayang, dan ritual keagamaan.
Baca Juga: Jejak Majapahit di Indonesia Modern: Dari Nama Jalan hingga Ideologi
Penyebaran budaya ini menciptakan identitas budaya bersama, sehingga wilayah-wilayah lain merasa terhubung dengan pusat kekuasaan Majapahit dan memperkuat pengakuan atau legitimasi kekuasaan serta memudahkan integrasi politik.
Keberhasilan Majapahit yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada dalam mempersatukan wilayah Nusantara menjadi bukti bahwa melalui strategi diplomasi yang cerdas dan matang tanpa campur tangan peperangan dapat membawa hasil akhir yang lebih maksimal dan kesejahteraan yang tenang.
FANEZA
Editor : Imron Arlado