Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Bangun Infrastruktur Air dari Hulu ke Hilir, Cara Kerajaan Majapahit Lakukan Pengendalian Banjir

Yulianto Adi Nugroho • Minggu, 15 Juni 2025 | 04:20 WIB
JEJAK SEJARAH: Situs Kutogirang di Desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, peninggalan Raja Airlangga yang diduga berfungsi sebagai pengendali banjir. (foto: dok. Google for JPRM)
JEJAK SEJARAH: Situs Kutogirang di Desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, peninggalan Raja Airlangga yang diduga berfungsi sebagai pengendali banjir. (foto: dok. Google for JPRM)

SEJUMLAH sungai di wilayah Kabupaten Mojokerto meluap hingga mengakibatkan banjir setelah hujan hampir seharian awal pekan ini.

Pada masa lalu, Kerajaan Majapahit mengatasi fenomena banjir dengan membangun infrastruktur air dari hulu ke hilir.

Pengendalian banjir pada masa 700 tahun silam itu mengandalkan jaringan kanal, tanggul, hingga waduk.

Majunya teknologi pengendalian banjir di zaman Majapahit salah satunya terungkap dalam penelitian Henri Maclaine Pont pada 1925-1927.

Arsitek Hindia Belanda itu mampu mengidentifikasi bekas jaringan kanal dan 18 bendungan di kawasan Trowulan, yang diyakini sebagai bekas ibu kota Majapahit.

’’Kanal dan bendungan itu dibangun untuk mengelola air,’’ kata Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya Dahana.

Pria yang berkantor di Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, itu menyebut infrastruktur pada masa Jawa kuno memiliki fungsi untuk mengendalikan banjir dan sumber pengairan sawah alias irigasi.

Dalam penelitiannya, Maclaine Pont menemukan belasan bendungan besar dan kecil yang terhubung dengan kanal-kanal lebar dan sempit.

Adapun bendungan yang telah lenyap itu juga menyambung dengan waduk kuno seperti Segaran.

’’Waduk Kumitir tampaknya merupakan waduk utama yang menyediakan air untuk kanal-kanal kota juga irigasi sawah di sekitarnya,’’ jelas Tommy.

Bendungan, juga waduk menampung air hujan sehingga tak membanjiri Wilwatikta. Air yang melimpah disalurkan lewat kanal atau saluran air menuju sungai dan sawah.

Sistem tata kota yang mutakhir ini juga diimbangi dengan penataan hidrologi di kawasan hulu.

Temuan situs-situs di lereng Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuno yang dilengkapi sisa-sisa bangunan tanggul mendukung hipotesis pengelolaan air era Majapahit.

Di antara bekas bangunan tanggul air itu dapat ditemukan di Situs Kutogirang, Desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro.

Situs berangka tahun 1432 Masehi (era Raja Airlangga) ini diduga merupakan bangunan air mengingat pola lubang pada dinding tembok yang diasumsikan sebagai saluran air.

Adapun strukturnya yang memanjang dari timur ke barat menyerupai benteng yang berguna untuk antisipasi banjir dari Gunung Penanggungan. (adi/fen)

Editor : Martda Vadetya
#jawa kuno #kota #kanal #gunung arjuno #pengairan #majapahit #gunung penanggungan #Museum Majapahit #banjir #airlangga #irigasi #infrastruktur #Henri MacLaine Pont #sawah