SEBELUM muncul teknik cetak logam, masyarakat Jawa kuno mengatasi kerasnya besi dengan cara penempaan dalam kondisi dingin dan panas.
Menurut Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya Dahana, kegiatan yang dikenal sebagai pandai besi tersebut tergambar jelas pada relief Candi Sukuh di Karanganyar, Jawa Tengah.
’’Relief candi dari masa Majapahit di abad ke-15 Masehi ini menginformasikan, di bengkel pandai besi paling tidak dibutuhkan dua orang. Satu orang memompa ububan dan satu lagi bertugas menempa besi,’’ ucapnya.
Pahatan dalam relief itu memuat tiga tokoh. Tokoh pertama yang ada di sebelah kanan digambarkan sedang berdiri sambil menekan ububan alias alat berupa tabung untuk meniup udara.
Sementara tokoh di sebelah kiri dalam posisi jongkok sambil memegang sebuah benda mirip belati yang diarahkan ke tempat keluarnya api dari ububan.
Adapun di atas tokoh itu terlihat berbagai jenis benda yang dikerjakan, seperti belati, keris, dan senjata tajam lainnya.
’’Sedangkan di tengah kedua tokoh tersebut terdapat manusia berkepala gajah yang sedang berdiri. Kaki kirinya ditekuk ke belakang dan tangannya memegang ekor anjing,’’ beber Tommy.
Menurutnya keberadaan ububan menjadi sesuatu yang menarik.
Sebab hal itu menunjukkan jika masyarakat Majapahit sudah mampu menghasilkan api bersuhu tinggi, yaitu dengan bantuan udara yang dipompa.
Ububan masih digunakan pada zaman sekarang, khususnya di bengkel besi tradisional.
Kendati demikian, lanjut dia, proses penempaan besi dalam kondisi dingin maupun panas itu sebetulnya teknik lama.
Artinya cara tersebut telah dikuasai sejak masa sebelum Majapahit. Baru setelah berkembangnya teknologi cetak logam, proses pengolahan besi menjadi bervariasi dan benda yang dihasilkan semakin beraneka ragam. (adi/fen)
Editor : Martda Vadetya