TEKNOLOGI pengolahan logam masa lampau mengalami kemajuan di zaman Kerajaan Majapahit.
Pada era kerajaan yang berpusat di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, itu berkembang teknik peleburan logam hingga mencair.
Bahan tersebut kemudian diproses menjadi aneka benda melalui tiga teknik cetak.
Fragmen perkembangan teknologi Majapahit tersebut dituturkan Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya Dahana.
Pria yang berkantor di Museum Pusat Informasi Majapahit (PIM), Desa/Kecamatan Trowulan, ini mengatakan, munculnya teknologi cetak logam mendorong industri Majapahit semakin maju.
”Teknik ini berkembang seiring dengan ditemukannya teknologi peleburan logam atau melting. Jadi, prosesnya, logam dipanaskan sampai cair dan dibentuk menjadi benda dalam sebuah cetakan,” jelasnya.
Tommy merinci, setidaknya terdapat tiga jenis teknik cetak logam yang diterapkan para perajin Majapahit.
Pertama, cetak tunggal menggunakan cetakan terbuka sederhana yang terbuat dari batu.
Cetakan tersebut diberi lubang yang menjadi tempat menuangkan logam cair panas.
”Teknik ini akan menghasilkan benda yang datar di salah satu sisinya,” ucap dia.
Teknik kedua disebut cetak setangkup. Jenis cetakan ini terdiri dari dua bagian yang sama persis.
Masing-masing mewakili separo benda yang akan dibentuk. Keduanya ditangkupkan lalu diisi dengan logam cair panas, sehingga menghasilkan benda yang simetris di kedua sisi.
”Contoh benda hasil cetak setangkup adalah kapak, ujung tombak, nekara, dan sebagainya,” paparnya.
Teknik yang ketiga ialah cetak lilin atau cire perdue/lost wax. Tommy menyatakan, teknik ini digunakan untuk membuat benda yang lebih rumit, variatif, dan nonsimetris.
Adapun proses pembuatannya meliputi tiga tahap, yaitu positif, negatif, dan positif.
Tahap positif yang pertama adalah membuat sebuah model benda yang diinginkan dari bahan tanah liat.
Model tersebut kemudian dibalut dengan lilin sampai pada ketebalan tertentu.
Lilin yang di dalamnya berisi model benda kemudian dibungkus lagi dengan tanah liat untuk selanjutnya dibakar.
Pada waktu pembakaran, lilin akan mencair dan mengalir keluar melalui lubang yang telah disediakan saat pembalutan.
Tanah pembalut lilin tadi menjadi cetakan yang negatif untuk selanjutnya diisi logam cair.
”Sehingga menghasilkan benda yang diinginkan, seperti arca, pusaka, dan aksesori,” tandas Tommy. (adi/ris)
Editor : Martda Vadetya