Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Bukan Semata Tempat Ibadah, Setiap Bagian Candi Mengandung Filosofi Tersendiri

Yulianto Adi Nugroho • Minggu, 11 Mei 2025 | 04:00 WIB
UPAYA PELESTARIAN: Lahan di kawasan Candi Brahu, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, segera dibebaskan pemerintah menindaklanjuti temuan struktur pagar keliling. (foto : dok. JPRM)
UPAYA PELESTARIAN: Lahan di kawasan Candi Brahu, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, segera dibebaskan pemerintah menindaklanjuti temuan struktur pagar keliling. (foto : dok. JPRM)

SEMENTARA itu, bangunan candi era Kerajaan Majapahit tak dibangun sebagai tempat ibadah semata.

Peninggalan arkeologis ini juga memiliki makna filosofis tentang kehidupan di setiap bagiannya.

’’Beberapa ahli dalam penelitiannya membagi candi menjadi tiga komponen, yakni bagian kepala, badan, dan kaki,’’ jelas Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya Dahana.

Pembagian tiga komponen itu selaras dengan konsep triloka dalam kepercayaan Hindu yang melambangkan alam semesta.

Bagian kepala candi artinya paling atas dan begitu pula kaki yang berarti dasar bangunan.
Tommy menuturkan bagian kaki candi dimaknai sebagai dunia tempat hidup manusia.

Bagian ini memiliki lambang bhurloka. Sementara itu badan atau tubuh candi yang berada di antara kaki dan kepala melambangkan bhuwarloka.

’’Yang artinya dunia di mana manusia telah mencapai kesucian dan kesempurnaan sehingga dapat berhadapan dengan dewa yang dipuja atau nenek moyang,’’ bebernya.

Baca Juga: Sosok Aji Ratnapangkaja, Pendamping Setia Dyah Suhita saat Memimpin Majapahit

Sedangkan, kepala candi adalah komponen yang paling dimuliakan. Bagian teratas ini memiliki lambang swarloka yang artinya adalah dunia para dewa dan nenek moyang. (adi/fen)

Editor : Martda Vadetya
#alam semesta #Filosofis #hindu #arkeologis #Komponen #tempat ibadah #kerajaan majapahit #candi