Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Ternyata Sudah Ada Masjid di Era Majapahit Lho! Di Sini Letaknya  

Yulianto Adi Nugroho • Minggu, 9 Maret 2025 | 04:18 WIB

 

TATA KOTA: Sketsa ibu kota Kerajaan Majapahit menurut arsitek Maclaine Pont yang menunjukkan letak lapangan Bubat koleksi Museum PIM, Trowulan. (foto: JPRM)
TATA KOTA: Sketsa ibu kota Kerajaan Majapahit menurut arsitek Maclaine Pont yang menunjukkan letak lapangan Bubat koleksi Museum PIM, Trowulan. (foto: JPRM)

AGAMA Islam eksis sejak era Kerajaan Majapahit 700 tahun silam. Keberadaan komunitas muslim salah satunya ditunjukkan dengan bangunan masjid di ibu kota kerajaan.

Bahkan, tempat ibadah itu berdiri di dekat Lapangan Bubat yang tak lain merupakan alun-alun Majapahit.

Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya Dahana mengatakan, penduduk di wilayah pusat Majapahit berasal dari berbagai latar agama.

Selain Hindu dan Buddha, terdapat pula pemeluk Islam. Masyarakat majemuk ini hidup secara berdampingan di Wilwatikta, ibu kota kerajaan yang diyakini berada di Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Adanya umat muslim di ibu kota Majapahit, menurut Tommy, tercantum dalam beberapa sumber sejarah.

Salah satunya Kidung Sunda atau Sundayana yang mengisahkan prahara pernikahan Hayam Wuruk dengan putri Sunda.

’’Nama masjid sempat beberapa kali disebut dalam cerita ini,’’ ujarnya.

Di antara penggalan kidung yang menyebut masjid adalah sebagai berikut: patang wiji kang inutus, danta ning sunda apatih, anepaken lawan demung tumenggung, (ng)aran pangulu Borang, mwang pitar apatih, wong sinaring umiringa wonten tigang atus, lampah ikangidul ndatan asari, pada agagancangan jumog eng Masigit-Agung.

Tommy menyatakan, berdasarkan catatan ahli Jawa kuno S.O. Robson, makna kata masigit agung tidak lain adalah Masjid Agung.

Jika diterjemahkan, nukilan kidung yang ditulis dalam bahasa Jawa pertengahan itu memiliki arti: ’’Empat dari mereka yang dikirim, Patih Sunda, Anepaken para demung, tumenggung yang berjuluk penghulu Borang, dan Patih Pitar yang menemaninya, para prajurit terpilih berjumlah tiga ratus orang berjalan ke arah selatan, mereka melaju terus tanpa berhenti hingga ke Masjid Agung’’.

’’Dari cerita di Kidung Sunda itu, dapat diketahui bahwa lokasi masjid berdekatan dengan Lapangan Bubat, sebagai tempat di mana sering diadakan upacara-upacara penting keraton Majapahit,’’ jelasnya.

Adapun Kidung Sunda menceritakan peristiwa Perang Bubat antara Raja Sunda dan rombongan dengan pasukan Majapahit yang dipimpin Gajah Mada.

Pertempurannya terjadi di Lapangan Bubat. Kisah ini tak tertulis dalam Kitab Negarakertagama yang dianggap sebagai sumber utama sejarah Majapahit.

Namun, karya Mpu Prapanca itu menyebut Lapangan Bubat berada di sebelah utara kompleks istana Majapahit.

Tanah lapang ini tak ubahnya alun-alun yang menjadi pusat sebagai kegiatan akbar kerajaan.

Sejumlah penelitian menyatakan letak Alun-Alun Bubat ada di sekitar Candi Wringin Lawang.

Letak rumah ibadah umat muslim yang berada di lingkaran jantung kota mirip dengan filosofi tata ruang pada masa sekarang.

Banyak daerah yang memiliki alun-alun dengan bangunan masjid di salah satu sisinya, tak terkecuali Masjid Agung Al Fattah di sebelah barat Alun-Alun Wiraraja, Kota Mojokerto.

Tommy mengungkapkan, berita dari kidung bisa menjadi sumber sejarah yang menunjukkan eksistensi muslim pada masa kerajaan di abad ke 13-16 Masehi itu.

Meskipun kidung adalah sebuah karya sastra, ucapnya, bukan berarti tidak mengandung kebenaran faktual.

’’Karena itu pula P.J. Zoetmulder yang merupakan pakar sastra dan bahasa Jawa mengelompokkan Kidung Sunda ini dalam jenis karya sastra yang bersifat historis,’’ beber dia. (adi/fen)

Editor : Martda Vadetya
#sejarah #masjid #muslim #majapahit #gajah mada #wilwatikta #kerajaan #Kitab Negarakertagama