KOMODITAS perdagangan yang diekspor Kerajaan Majapahit beraneka ragam dari hasil bumi hingga industri tekstil.
Sementara itu, barang dari luar negeri yang masuk paling banyak produk keramik dari Tiongkok.
Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya Dahana mengungkapkan, komoditas perdagangan dari wilayah pedalaman Majapahit dibawa ke kota pelabuhan melalui Sungai Brantas dan Bengawan Solo.
’’Komoditas-komoditas tersebut kemudian diekspor melalui Pelabuhan Sedayu di Gresik dan Pelabuhan Tuban,’’ jelasnya.
Di antara barang ekspor andalan itu adalah beras yang dikirim ke Maluku dan Tiongkok. Ke Negeri Tirai Bambu itu pula lada dari Pacitan dijual melalui Pelabuhan Tuban.
Dari sana lanjutnya, ada juga aktivitas penjualan rempah-rempah, mutiara, kulit penyu, emas, perak, kayu cendana, tebu, pisang, kepala, kapuk, kain katun, sutra, dan belerang.
’’Kalau Pelabuhan Gresik menjadi pengekspor produk seperti beras, kacang-kacangan, gula, ikan, sapi, kuda, dan hewan buruan. Seperti banyak tempat lain di pantai utara, Gresik juga mengekspor kayu, baik dalam bentuk gelondongan maupun yang telah digergaji untuk dijadikan papan atau tiang,’’ jelasnya.
Selain ekspor, pelabuhan milik Majapahit ini juga sibuk dengan kegiatan impor.
Para saudagar dari belahan bumi lain membawa berbagai produk andalannya.
Misalnya kain-kain tenun dari India serta yang paling banyak adalah pedagang Tiongkok dengan komoditasnya berupa sutra, porselen, dan barang lain dalam jumlah besar. (adi/fen)
Editor : Martda Vadetya