Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Ekspor-Impor Era Majapahit, Pelabuhan Tuban dan Gresik Jadi Andalan  

Yulianto Adi Nugroho • Minggu, 12 Januari 2025 | 01:28 WIB

 

KERAJAAN MARITIM: Miniatur kapal representasi Majapahit sebagai kerajaan maritim di Museum PIM, Trowulan. (foto: Yulianto Adi Nugroho/JPRM)
KERAJAAN MARITIM: Miniatur kapal representasi Majapahit sebagai kerajaan maritim di Museum PIM, Trowulan. (foto: Yulianto Adi Nugroho/JPRM)

RODA perekomonian pada masa Kerajaan Majapahit tak lepas dari masifnya aktivitas ekspor dan impor.

Dua pelabuhan besar di Jawa Timur yakni Tuban dan Gresik adalah jantung perdagangan internasional kala itu.

Ramainya pelabuhan didukung letaknya yang strategis karena dikelilingi hutan kayu untuk keperluan membuat galangan hingga kapal.

Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya Dahana menyebut perkembangan Tuban sebagai kota pelabuhan terlacak sejak masa Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan, era sebelum Kerajaan Majapahit.

Filolog Belanda, Johannes Gijsbertus de Casparis, kata Tommy, menemukan dua jenis pelabuhan pada zaman itu.

Keduanya adalah Ujung Galuh yang diduga ada di Sidoarjo sebagai pelabuhan antarkepulauan di Nusantara dan Kambang Putih sebagai pelabuhan internasional.

’’Kambang Putih sekarang dikenal sebagai Tuban,’’ ujarnya di Museum Pusat Informasi Majapahit (PIM), Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jumat (10/1).

Tommy menyatakan, sejumlah kebijakan diterapkan Airlangga untuk menarik pedagang luar negeri agar singgah di Kambang Putih.

Salah satunya subsidi dari kerajaan berupa keringanan pajak melalui penetapan status daerah sima.

’’Karena biaya berdagang di Pelabuhan Tuban lebih murah sehingga pelabuhan tersebut menjadi ramai karena banyak disinggahi kapal dagang dari India, Burma, Kamboja, dan Champa,’’ jelasnya.

Memasuki era Majapahit, Pelabuhan Tuban yang sudah dikenal saudagar dari berbagai belahan dunia tetap dipelihara sebagai pusat ekspor dan impor.

Pun demikian dengan Pelabuhan Gresik. Selain pintu keluar komoditas andalan dari Majapahit dan daerah kekuasaannya, Tommy mengatakan Gresik juga menjadi kota pelabuhan tempat saudagar Cina mengirim barang dagangannya.

Kemajuan dua pelabuhan besar tersebut didukung melimpahkan kayu sebagai bahan baku penting bagi perkapalan.

Seperti Tuban yang berada di barisan Pegunungan Kendeng dikelilingi hutan jati sangat lebat. Pohon-pohon berkualitas ini diperlukan dalam pembangunan rumah hingga galangan kapal.

’’Kayu-kayu jati itu didatangkan ke Pelabuhan Tuban, juga Gresik dan Surabaya untuk memenuhi permintaan pasar,’’ tandas Tommy. (adi/fen)

Editor : Martda Vadetya
#pelabuhan #majapahit #perkapalan #airlangga #ekspor #impor