BATIK sebagai salah satu warisan budaya Indonesia telah dikenal sejak era Kerajaan Majapahit.
Cikal bakal batik di masa 700 tahun silam itu dapat ditilik melalui motif pakaian di arca dewa, serta beberapa istilah dalam prasasti sebagai sebutan nama kain.
Kepala Sub Bagian Koleksi Museum Pusat Informasi Majapahit (PIM) Tommy Raditya Dahana mengatakan, sejumlah motif batik yang populer saat ini teridentifikasi sudah eksis pada masa Majapahit.
Di antara yang diketahui wujudnya itu seperti motif kawung, tumpal, gringsing, bakung, serta bunga.
”Bisa diketahui motifnya karena ada data visualnya,” ujarnya.
Bentuk-bentuk pola hias tersebut ditemukan dalam berbagai arfetak berupa arca.
Salah satunya arca Dwarapala di kompleks Candi Penataran, Kabupaten Blitar.
Patung batu yang menggambarkan sosok dewa penjaga itu dibuat dengan memakai busana yang memiliki pola hias kawung.
Menurut Tommy, motif pada kain dari zaman Majapahit menjadi cikal bakal batik.
Pada masa abad ke-13 sampai 16 Masehi itu telah digunakan pakaian yang memiliki gambar spesifik.
”Kain yang dibuat dari proses menenun telah diberi motif dan pewarnaan. Seperti, motif kawung yang merupakan motif awal dari batik kawung yang dipakai sampai sekarang,” beber Pamong Budaya Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim tersebut.
Tommy menjelaskan, motif dan pola hias kain sebenarnya sangat banyak dan beragam.
Tetapi, bentuknya seperti apa sampai sekarang masih sedikit yang bisa diketahui.
Tak banyak artefak yang menunjukkan bentuk hiasan pada pakaian tersebut.
”Apalagi, kain sendiri juga barang yang tidak berumur panjang, mudah lapuk dimakan usia,” ujarnya.
Namun demikian, lanjut dia, sejumlah istilah yang merujuk pada penyebut kain (wdihan) tertuang dalam sumber-sumber prasasti.
Nama-nama itu dimungkinkan berasal dari penamaan motif atau bentuk pola hiasnya.
Seperti wdihan sulasih yang ditafsirkan sebagai kain dengan motif bunga selasih dan lain-lain (selengkapnya lihat grafis).
Selain itu, ada pula istilah-istilah dalam bahasa Jawa kuno yang oleh para ahli diyakini merujuk pada kain dengan hiasan pola atau gabungan pola dari bungan kapuk, daun, kerang, jaring ikan, hingga tanduk rusa.
”Motif-motif yang disebut dalam banyak prasasti ini ada namanya, tapi kita tahu bentuknya. Jadi, ini interpretasi para peneliti terhadap penamaan kain yang disebut,” tandas Tommy. (adi/ris)
Editor : Martda Vadetya