BERKEMBANGNYA industri tekstil pada era Kerajaan Majapahit membuat aktivitas menjahit menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari.
Hal ini berkaitan dengan produksi kain tenun serta proses memintal benang yang telah digeluti masyarakat Jawa kuno tersebut.
Meski sudah masif, aktivitas menjahit di zaman itu masih serbamanual secara peralatan dan metode.
Kepala Sub Bagian Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Tommy Raditya Dahana mengatakan proses menjahit kain dimungkinkan sudah dilakukan masyarakat mengingat penggunaan busana pada abad 13 sampai 16 Masehi itu telah masif.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rantai industri tekstil yang meliputi penyuplai bahan baku, produsen, serta pedagang.
Menurutnya, kegiatan menjahit pakaian tak bisa dilepas dari proses pemintalan yang menyusun benang-benang menjadi lembaran kain.
’’Untuk proses pemintalan kemungkinan masih pakai alat tradisional,’’ ujar Tommy.
Memintal pada masa Majapahit adalah proses pembuatan kain tenun dengan menyatukan benang.
Material itu dirajut secara bersilang antara vertikal dan horizontal hingga menjadi selembar kain.
Proses ini dilakukan menggunakan alat kayu sebagaimana teknik merajut manual yang masih dapat ditemui di beberapa daerah saat ini.
Tommy menyebut, terdapat sejumlah bukti yang menunjukkan aktivitas menenun pada zaman kuno.
Salah satunya yakni sosok menenun dengan alat tenun gendong yang tergambar pada relief Candi Borobudur.
’’Ada juga relief lepas bagian candi atau umpak di Jawa Timur yang menggambarkan orang menenun,’’ jelasnya.
Jejak aktivitas menjahit di zaman Majapahit juga terlacak dari penemuan artefak. Seperti kumparan atau sprindel whorl.
Benda cagar budaya berbentuk cakram dengan lubang di tengah itu digunakan sebagai alat menenun dan memintal benang.
Kumparan memiliki ukuran diameter 3-10 sentimeter dan terbuat dari terakota serta batu kapur.
Secara fungsi, kumparan menjadi pemberat alat pemintal benang.
Sesuai bentuknya, lubang di tengah dipasangkan pada batang pemintal agar benang lurus dan tak terlepas pada saat dipintal.
Mengingat fungsinya, Tommy menyatakan, penenun tradisional serta kumparan bisa disebut sebagai teknologi terapan dalam industri tekstil. (adi/fen)
Editor : Martda Vadetya