BUSANA dan aksesori tubuh sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kerajaan Majapahit.
Tak terkecuali alas kaki sederhana layaknya sandal berbahan kayu dan kulit hewan.
Pelindung telapak kaki ini juga digunakan para dewa dalam tokoh pewayangan.
Kepala Sub Bagian Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Tommy Raditya Dahana mengatakan, sebagian besar arca dari zaman Majapahit digambarkan bertelanjang kaki, alias tanpa alas kaki.
Namun demikian, beberapa tokoh masyarakat dalam relief candi dari masa kerajaan abad ke-13 sampai 16 Masehi itu tampak mengenakan.
”Kebanyakan tidak pakai alas kaki, meskipun relief-relief yang menunjukkan alas kaki sebenarnya sudah ada,” bebernya.
Bentuk alas kaki yang digunakan masyarakat pada era sekitar 700 tahun lalu itu masih sederhana.
Wujudnya menyerupai sandal yang terbuat dari bahan-bahan alami.
Tommy menyebut, alas kaki yang dipakai memiliki bahan antara lain kayu hingga kulit hewan.
”Alas kaki kemungkinan dibuat dari pelepah atau kulit kayu, bahan kayu, dan kulit hewan,” jelasnya.
Bahan itu dipakai menggunakan tali yang menjadi pengait layaknya sandal di zaman sekarang.
Talinya berbahan alami karena saat itu belum dikenal pengolahan bahan karet.
Meski tokoh dewa maupun manusia dalam arca tak tampak mengenakan alas kaki, tapi Tommy punya penjelasan.
Menurutnya, bentuk alas kaki digambarkan dalam tokoh pewayangan yang eksis sejak era sebelum Majapahit.
Khususnya karakter-karakter yang menggambarkan sosok dewa.
”Karakter wayang yang menggunakan alas kaki itu biasanya para dewa,” ungkapnya.
Tommy menyatakan, sandang sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat Majapahit.
Meskipun tingkat penggunaannya berbeda sesuai dengan strara sosial.
Semakin tinggi golongan, seperti bangsawan dan raja, semakin lengkap pula busana dan aksesori yang dikenakan.
”Catatan Ma Huan (abad ke-15 Masehi) menyebut, masyarakat Jawa masih telanjang, mungkin memang saat itu yang dilihat kelompok tertentu. Tapi, sebagian besar sudah berpakaian, termasuk memakai alas kaki, meskipun tidak semuanya penuh seperti orang sekarang dari atas sampai bawah,” bebernya.
Mengingat pentingnya penggunaan alas kaki, dimungkinkan pula kegiatan produksi telah dilakukan masyarakat. Meskipun bentuknya belum semasif industri tekstil kain.
Keberadaan sejumlah kampung sentra penghasil sandal dan kaki di Mojokerto sampai hari ini juga memperkuat eksistensi alas kaki sudah ada sejak era kerajaan Majapahit yang diyakini berpusat di Trowulan. (adi/ris)
Editor : Martda Vadetya