Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Jejak Sejarah Industri Tekstil Era Majapahit, Pelihara Ulat Sutra dan Berkebun Kapas

Yulianto Adi Nugroho • Minggu, 29 September 2024 | 13:00 WIB
GAMBARAN SEJARAH: Adegan Sinta dan Trijata yang memakai kemben dan kain dalam relief Ramayana di Candi Penataran, Kabupaten Blitar. (foto: Kemdikbud)
GAMBARAN SEJARAH: Adegan Sinta dan Trijata yang memakai kemben dan kain dalam relief Ramayana di Candi Penataran, Kabupaten Blitar. (foto: Kemdikbud)

TOKOH dalam Sumanasantaka menyaksikan hamparan kebun kapas di tanah Jawa.

Jauh sebelum itu, berita dari Dinasti Sung mengabarkan bahwa penduduk Jawa telah memelihara ulat sutra hingga menenun kain halus.

Dokumen sejarah ini membuktikan bahwa industri tekstil sudah berkembang pesat pada masa Kerajaan Majapahit.

Dua sumber tertulis itu sebetulnya berasal dari era sebelum Majapahit (1293-1527 Masehi).

Kitab Sumanasantaka adalah puisi berbahasa Jawa Kuno yang ditulis Empu Monaguna pada abad ke-13.

Gambaran kebun kapas didapatkan arkeolog Jan Wisseman Christie dari pembacaan kakawin peninggalan Kerajaan Kediri itu.

”Kemungkinan besar kapas itu dibudidayakan masyarakat Jawa untuk produksi kain, tidak untuk yang lain,” jelas Kepala Sub Bagian Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Tommy Raditya Dahana.

Tommy mengatakan, hamparan tanaman kapas berkelindan dengan geliat industri tekstil kain katun yang masif pada masa Majapahit.

Kebun kapas menjadi rantai awal yang menyediaan bahan baku untuk diproduksi.

Menurut Tommy, kegiatan pengolahan ini telah terhubung hingga tingkat pasar alias penjualan.

Menariknya, industri kain saat itu bukan hanya jenis tenun. Masyarakat Majapahit rupanya juga membudidayakan ulat sutra untuk diolah menjadi kain jenis sutra.

”Orang Jawa saat itu pernah memberi upeti ke orang-orang Tiongkok berupa kain sutra,” katanya.

Kesaksian terkait budi daya ulat sutra ini tertuang dalam berita Dinasti Sung dari kekaisaran Tiongkok yang berkuasa pada 960-1279 Masehi.

Selain memelihara ulat sutra, penduduk Jawa juga disebut telah membuat atau menenun kain dari sutra halus dan sutra kuning.

”Proses pemintalan saat itu masih memakai alat manual yang memadukan benang vertikal dengan horisontal, sehingga jadi kain,” tandas Tommy.

Dalam prasasti-prasasti yang ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, terang Tommy, kain menjadi salah satu pasek-pasek (hadiah, persembahan) untuk pejabat menghadiri peresmian sima (desa perdikan).

Kain atau wdihan (kain indah untuk para bangsawan) yang dibagikan itu berbeda-beda peruntukannya, tergantung dari latar belakang sosial pemakainya. (adi/ris)

Editor : Martda Vadetya
#jawa kuno #Kekaisaran Tiongkok #majapahit #tekstil #sima #kerajaan kediri