BAYANGAN tentang zaman kerajaan hampir selalu berupa visual hitam-putih.
Hal ini, tak lepas dari sumber sejarah berupa artefak arca, relief, maupun ilustrasi yang serba-monokrom.
Padahal, kala itu benda dengan aneka warna telah dikenal dan menjadi corak kehidupan, termasuk dalam masyarakat Majapahit.
Penelitian terhadap peninggalan sejarah menunjukkan kehidupan pada masa Majapahit penuh warna.
Warna dalam arti yang sesungguhnya: merah, kuning, hijau, biru, nila, hitam, dan lain-lain.
Warna-warni yang layaknya ada di zaman kiwari ini muncul pada kain pakaian, gerabah, hingga candi tempat pemujaan.
Kepala Sub Bagian Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Tommy Raditya Dahana menerangkan, bahan untuk pewarnaan kain pada masa itu dibuat dari tumbuhan serta material logam.
Misalnya, zat warna merah yang diproses dari buah malaka, kayu ubar, dan kesumba.
Ada pula pembuatan warna hitam menggunakan kulit buah manggis dan ketapang.
Bahan ini dicampur dengan besi atau merang, sehingga menghasilkan kelir gelap.
”Jadi, selain bahan yang sudah memunculkan warna tertentu, ada juga warna yang dihasilkan dari proses kombinasi,” ujarnya.
Selain pada kain, proses pewarnaan juga dilakukan masyarakat Majapahit pada perabotan rumah sehari-hari.
Sebut saja warna merah pada tembikar alias gerabah berbahan tanah liat yang didapat dari tanah oker.
”Pembuat tembikar di daerah Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan sampai sekarang masih menggunakan tanah oker, masyarakat setempat menyebutnya puru,” terang Tommy.
Dia menjelaskan, tanah oker yang mengandung hematit atau mineral kemerahan itu didapat perajin dari hutan.
Oker yang juga bisa berupa batuan itu ditumbuk sampai halus lalu diaduk dengan air.
Campuran ini dilumurkan ke gerabah setengah jadi untuk dikeringkan.
”Baru setelah itu kemudian dibakar dan memunculkan warna merah,” imbuh dia.
Penelitian menyebutkan jika pewarna alami oker telah digunakan sejak zaman prasejarah.
Tommy mengatakan, dalam arsitektur candi era Majapahit juga ditemukan adanya proses pewarnaan.
Bukan sekadar batu atau bata polosan seperti yang sering dilihat, beberapa dinding candi rupanya dilapisi dengan bahan bajralepa.
Hal itu, dapat dibuktikan pada struktur Candi Gunung Gangsir di Beji, Pasuruan.
”Lapisan ini membuat candi berwarna kuning keemasan ketika tertimpa sinar rembulan,” tuturnya.
Selain memunculkan warna, penggunaan material semacam semen kuno itu juga menjadi ”kosmetik”, karena membuat relief semakin halus.
Penelitian, lanjut Tommy, lapisan bajralepa kemungkinan dibuat dari campuran kapur, lempung, pasir, besi, tembaga, dan belerang.
Cara pelapisan ini ditemukan pula pada candi-candi di Jawa Tengah. ”Lapisan ini sekarang masih bisa ditemukan di Candi Kalasan (peninggalan Kerajaan Mataram Kuno di Yogyakarta),” tandasnya.
Tommy mengungkapkan, berbagai warna yang muncul dalam aneka benda ini membuktikan jika teknologi pewarnaan pada masa Majapahit sudah berkembang pesat.
Entah dalam wujud pakaian, arsitektur, maupun perabotan rumah.
Hal ini, berkebalikan dengan paradigma yang seolah menggambarkan segala sesuai dari zaman kuno terlihat hitam-putih.
”Mungkin karena tidak teperhatikan dan jarang ada yang membicarakan. Mungkin juga karena bayangan kita kalau membahas masa lalu ya hitam-putih,” tandasnya. (adi/ris)
Editor : Martda Vadetya