Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Perabotan Terakota Era Majapahit Lebih Unggul, Namun Kalah dari Keramik China

Yulianto Adi Nugroho • Senin, 16 September 2024 | 13:00 WIB

 

BERSEJARAH: Sejumlah artefak keramik dari era Majapahit koleksi Museum PIM di Trowulan. (foto: Yulianto Adi Nugroho / JPRM)
BERSEJARAH: Sejumlah artefak keramik dari era Majapahit koleksi Museum PIM di Trowulan. (foto: Yulianto Adi Nugroho / JPRM)

ANEKA perabotan di zaman Kerajaan Majapahit hanya dibuat dari tanah liat.

Meski demikian, kerajinan yang disebut terakota itu terbukti bisa bertahan hingga ratusan tahun karena melalui proses pembakaran sempurna, serta menggunakan bahan baku unggulan.

Menariknya, masyarakat Majapahit juga memproduksi barang keramik hasil mencontoh kerajinan China.

Meskipun pada akhirnya masih kalah secara kualitas. Hal ini, seperti diungkapkan Ketua Perkumpulan Peduli Majapahit Gotrah Wilwatikta Anam Anis.

Menurutnya, artefak gerabah dari era Majapahit pada abad ke-13 sampai ke-15 Masehi kebanyakan ditemukan berbahan tanah liat.

Sebagian besar bentuknya berupa wadah. Seperti gentong dan bejana berukuran besar untuk menampung persediaan air, hingga kendi sebagai tempat menyimpan air minum.

”Selain perabotan, ada juga terakota lain. Seperti celengan yang dibuat dari tanah dengan macam-macam bentuk,” kata pria 66 tahun itu.

Di zaman itu, kata Anis, kandungan tanah masih murni belum mengalami pencemaran. Pun demikian dengan kayu untuk pembakaran yang jenisnya tak asal-asalan.

Walhasil, kualitas terakota yang dihasilkan juga bagus. Hal ini, selaras dengan keahlian mumpuni yang dimiliki para perajin Majapahit kala itu.

”Dengan bahan sederhana, Majapahit sudah bisa membuat barang yang kuat,” ujarnya.

Produksi terakota kelak masif di berbagai daerah Majapahit hingga masa kejayaannya.

Termasuk, di kawasan Wilwatikta alias ibu kota yang diyakini berada di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Tradisi ini dapat dilacak dengan masih banyaknya perajin batu bata dari tanah liat yang eksis di kecamatan tersebut.

”Seperti sudah turun-temurun dan terus diwarisi,” tutur Direktur Lembaga Pendampingan Perempuan dan Anak Bina Annisa itu.

Perdagangan global dengan negara tetangga kemudian memengaruhi kerajinan Majapahit.

Salah satunya para pedagang dari Tiongkok yang mengenalkan benda-benda berbahan keramik.

Memang, negeri Tirai Bambu saat itu sudah maju dengan produk keramiknya. Bahkan, para pedagang Majapahit yang hanya mengenal terakota rela menukar barang dagangannya yang rata-rata hasil bumi dengan benda-benda dari keramik itu.

”Jadi, keramik China itu hasil barter, masyarakat berjualan dengan dibayari keramik,” jelasnya.

Selain berupa bejana, keramik-keramik impor yang beredar pada masa 700 silam itu meliputi, piring, mangkuk, periuk, sendok, vas, hingga ubin.

Keramik tersebut dibuat dari tanah liat putih alias mineral kaolin yang dibakar.

Anis menambahkan, pada akhirnya perajin terakota Majapahit juga memproduksi keramik. Khususnya, ketika benda serupa telah banyak beredar di tengah masyarakat.

Namun, kualitas yang dihasilkan tetap tak bisa menandingi barang dari negeri asalnya.

”Majapahit akhirnya memproduksi benda dari keramik juga, tapi tidak sekelas China. Karena, di zaman itu China memang sudah maju di bidang keramik,” tandas pengacara senior itu. (adi/ris)

Editor : Martda Vadetya
#mojokerto #majapahit #terakota #keramik #china