BUKAN rahasia lagi apabila benda bersejarah selalu jadi buruan banyak orang.
Tak terkecuali arca peninggalan Majapahit yang diperjualbelikan oleh sindikat ilegal.
Seperti baru-baru ini, sejumlah arca dan relief bernilai miliaran rupiah dari kerajaan yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, itu dipulangkan ke Indonesia dari Amerika Serikat.
Kepala Sub Bagian Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Tommy Raditya Dahana mengatakan, fungsi arca sebagai sarana pemujaan punya posisi sentral dalam kehidupan masyarakat kuno.
”Arca batu dipahat secara khusus. Sedangkan arca logam menggunakan berbagai teknik cetak yang memiliki ciri khusus. Kalau itu, dari era Majapahit,” bebernya.
Menurut dia, harga tinggi pada artefak tak hanya dipengaruhi umurnya yang sudah ratusan tahun, melainkan juga nilai sejarahnya. Pun demikian dengan relief.
”Pada umumnya relief berisi fragmen aktivitas sehari-hari. Artinya, dia (relief) gambaran nyata kondisi pada zamannya,” ujar Tommy.
Mengingat mahalnya sebuah artefak, tak heran apabila keberadaannya banyak diburu. Bahkan sampai beredar di pasar gelap dunia.
Seperti enam artefak yang dikembalikan pemerintah Amerika Serikat ke tanah air pada April lalu.
Benda kuno dari masa Majapahit itu, antara lain berupa dua arca dewa dan sebuah relief.
Benda hasil sitaan dari sindikat perdagangan ilegal ini punya nilai hingga Rp 6,5 miliar.
Dua arca yang dimaksud adalah patung perunggu dewa Buddha dalam posisi duduk dan patung dewa Wisnu dalam figur berdiri.
Sementara itu, relief batu bergambar dua tokoh memegang buah maja, yang identik dengan asal mula nama Majapahit.
Para peneliti menduga benda penting dalam kebudayaan Indonesia ini diterbangkan ke seberang benua pada masa pendudukan kolonial, serta ketika awal-awal republik ini berdiri. (adi/ris)
Editor : Martda Vadetya