SEMENTARA itu, keris merupakan benda yang diagungkan oleh masyarakat Majapahit.
Tak hanya sebagai senjata saku, lebih dari itu keris menjadi simbol kehormatan layaknya berlian di zaman sekarang.
Ada catatan yang menyebut pemberian keris kepada raja sebagai bentuk terima kasih warga atas pemberian status tanah sima alias bebas pajak.
”Prasasti yang terkait dengan logam biasanya terkait dengan penetapan sima, di situ disebutkan benda-benda persembahan yang salah satunya keris,” kata Kepala Sub Bagian Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Tommy Raditya Dahana.
Persembahan tersebut menjadi imbalan dari masyarakat untuk pihak kerajaan yang telah memberikan status bebas pajak terhadap tanah yang mereka garap.
Sistem manusuk sima atau penetapan lahan sima bisa dibilang sebagai satu dari sekian legacy Kerajaan Majapahit.
Pembebasan pajak tanah ini diberikan oleh pejabat kerajaan secara perseorangan kepada rakyat.
Hadiah ini sebagai bentuk balas budi atas prestasi, sumbangsih, maupun pertimbangan lainnya.
Penetapan sima konon sangat sakral karena dilakukan melalui ritual tertentu.
Tommy mengatakan, status sima membuat pemilik lahan sangat bahagia.
Tak heran apabila mereka memberikan benda-benda berharga kepada si pemberi sebagai ungkapan terima kasih.
”Pihak yang mendapat anugerah sima memberi kain sampai keris untuk pejabat dan raja sebagai persembahan,” jelasnya.
Bagi masyarakat Majapahit, keris memang benda yang sakral. Senjata tajam ini tak pernah lepas dari genggaman mereka.
Bahkan, sebagaimana catatan Ma Huan, anak-anak kecil beraktivitas sambil menenteng keris. ”Keris ini menjadi identitas masyarakat,” tandas Tommy. (adi/ris)
Editor : Martda Vadetya