Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Dijauhi Warga, Ahli Logam Era Majapahit Diperhatikan Negara

Yulianto Adi Nugroho • Minggu, 4 Agustus 2024 | 13:10 WIB
ARTEFAK: Kowi alias cetakan emas dari zaman Majapahit koleksi Museum PIM, Trowulan. (foto: Yulianto Adi Nugroho)
ARTEFAK: Kowi alias cetakan emas dari zaman Majapahit koleksi Museum PIM, Trowulan. (foto: Yulianto Adi Nugroho)

SEMENTARA itu, atas jasanya dalam membuat peralatan perang seperti keris dan pedang, para ahli logam di zaman Majapahit sangat dihormati oleh kalangan kerajaan.

Namun, pandangan berbeda justru datang dari masyarakat biasa. Kalangan perajin ini cenderung dihindari warga karena dianggap punya ilmu magis.

Kepala Sub Bagian Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Tommy Raditya Dahana menyebutkan, ada banyak profesi yang berkaitan dengan pengolahan logam dari prasasti yang ditemukan pada abad ke-9 sampai 10 Masehi. S

elain pandai wsi untuk sebutan tukang besi, saat itu telah dikenal tukang tembaga dengan istilah pandai tamwaga, pande tamra, dan katambran.

Ada pula profesi apande sisinghen alias tukang pembuat senjata, pandai mas (tukang emas), dan pandai kamsa/kangsa (tukang perunggu).

Tak hanya itu, profesi spesifik juga tercatat dalam prasasti, antara lain apamandai dang (pembuat periuk, bejana, dandang), masayang (pembuat barang-barang dari tembaga), serta pandai kawat yang ditengarai sebagai sebutan pembuat kawat.

”Hal ini menunjukkan kalau produksi logam saat itu sudah masif dan peran perajin sangat penting,” ujarnya.

Namun, kata Tommy, pandangan masyarakat umum terhadap ahli logam tak segaris dengan peran penting mereka.

Publik justru cenderung anti karena menganggap orang-orang dari profesi tersebut memiliki kemampuan magis.

”Beberapa referensi mengatakan, bahkan profesi pandai besi dan yang berkaitan dengan logam anehnya justru dijauhi dan cenderung ditakuti masyarakat karena dianggap memiliki kekuatan magis,” beber dia.

Dalam strata sosial, para ahli logam menduduki lapisan bawah. Anggapan ini seperti yang diarahkan kepada pembuat keris alias empu yang dinilai punya ilmu sihir, sehingga dihindari dan ada baiknya tak berurusan dengan mereka.

Tommy menyebut paradigma ini mengalami pergeseran seiring kemajuan zaman. Misalnya, kajian antropolog Amerika Serikat Stanley Ann Dunham pada 1976 yang mengungkap pandai besi merupakan profesi yang dihormati masyarakat.

Dunham yang tak lain ibu kandung Presiden Barack Obama menemukan fakta itu setelah melakukan penelitian terhadap komunitas pandai besi di Gunungkidul, Jogjakarta.

Kendati condong dihindari warga, perlakuan berbeda diterima para ahli logam dari pejabat Kerajaan Majapahit.

Mereka sangat diperhatikan karena dianggap sangat penting dalam menyediaan peralatan perang. Seperti keris dan pedang untuk militer.

Hal ini berkaitan dengan penguasaan terhadap logam yang menjadi instrumen negara dalam mempertahankan daerah kekuasaan, serta menghadapi serangan musuh.

 ”Di satu sisi perajin logam dihindari masyarakat, tapi di sisi lain diperhatikan pejabat negara,” tandas Tommy. (adi/ris)

Editor : Martda Vadetya
#logam #MaGIS #majapahit #pusat informasi majapahit #kerajaan