PERAJIN pada masa Kerajaan Majapahit memproduksi logam menjadi senjata tajam untuk perang hingga alat pertanian.
Relief pandai besi di Candi Sukuh menjadi bukti proses penempaan besi dengan api bersuhu tinggi.
Selain itu, teknik cetak setangkup hingga lilin diterapkan untuk membuat benda dengan bentuk rumit.
Kepala Sub Bagian Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Tommy Raditya Dahana menjelaskan, kemampuan manusia membuat benda dari logam terlacak sejak masa prasejarah.
Awalnya masyarakat memanfaatkan logam yang tersedia di permukaan tanah sebelum akhirnya mampu melakukan penambangan.
Menurut peneliti Timbul Haryono, kata Tommy, kemunculan teknologi pengapian (pyrotechnology) kemudian mengubah pola pengolahan logam masa lampau menjadi lebih efisien.
Dengan api, lanjutnya, perajin bisa memisahkan antara logam murni dan kandungan tanah dengan teknik smelting.
’’Setelah itu mulai bisa menggunakan teknik cetak karena sebelumnya hanya teknik tempa dingin tanpa dibakar,’’ tuturnya, Kamis (1/8).
Pada zaman Majapahit, jenis logam yang diproduksi sudah lebih beragam dibanding era sebelumnya, di antaranya yakni besi, perak, perunggu, tembaga, dan emas.
Gambaran tentang proses pengolahan logam semakin jelas dengan ditemukannya relief pandai besi di Candi Sukuh dari era kerajaan yang eksis pada abad ke-13 sampai 16 Masehi itu.
Relief pada dinding candi yang ditemukan di Karanganyar, Jawa Tengah itu, kata Tommy, menunjukkan paling sedikit dibutuhkan dua orang di bengkel pandai besi.
Satu orang bertugas memompa ubub, lainnya menempa besi.
’’Yang menarik adalah sudah digunakan alat ububan untuk menghasilkan api bersuhu tinggi dengan bantuan udara yang dipompa lewat ububan,” bebernya.
Benda yang diproduksi pandai besi kala itu meliputi belati, keris, sabit, dan bentuk senjata tajam lain.
Beragam peralatan ini digunakan untuk keperluan perang hingga menggarap lahan pertanian.
Selain tempa, Tommy menyebut, setidaknya ada tiga jenis teknik cetak yang digunakan perajin logam sejak zaman kuno.
Yang paling sederhana adalah cetak tunggal. Teknik dengan cetakan terbuka ini memanfaatkan alat sederhana berupa batu yang dilubangi sesuai bentuk benda yang diinginkan lalu diisi dengan cairan logam.
’’Teknik ini akan menghasilkan benda yang datar di salah satu sisinya,’’ imbuh pria yang menjabat Pamong Budaya BPK Wilayah XI Jatim itu.
Sedang, untuk membuat benda yang lebih variatif, ahli logam menggunakan teknik cetak setangkup dan cetak lilin.
Cetakan setangkup menghasilkan benda simetris karena terdiri dari dua belah yang berukuran sama persis.
Masing-masing bagian mewakili separo benda yang akan dibentuk kemudian ditangkupkan.
Tommy menjelaskan, benda seperti kapak, ujung tombak, dan nekara, dibuat dengan cara ini.
Sementara itu, kerajinan logam dengan bentuk yang unik dan rumit lebih mungkin dibuat dengan teknik cetak lilin.
Inilah teknik ketiga. Tommy menerangkan teknik dengan nama lain cire perdue ini menggunakan cetakan lilin yang dibungkus dengan tanah liat.
Langkah pertama adalah membuat model barang dari tanah liat. Model tersebut kemudian dibalut dengan lilin sampai ketebalan tertentu.
Lilin yang di dalamnya berisi model kemudian dibungkus lagi dengan tanah liat lalu dibakar.
Dan, tibalah pada tahap akhir saat lilin mencair dan mengalir keluar melalui lubang yang dibuat saat pembalutan.
Hasil dari pembakaran ini: tanah pembalut tadi menjadi cetakan untuk selanjutnya diisi dengan logam cair.
’’Selanjutnya logam cair dituang ke cetakan sehingga menghasilkan benda yang diinginkan,’’ tandasnya. (adi/fen)
Editor : Martda Vadetya