SEMENTARA itu, kendati sistem pengendalian air di era Kerajaan Majapahit telah maju, namun masyarakat dimungkinkan masih melakukan aktivitas buang air besar secara tradisional.
Hal ini seiring dengan belum ditemukannya artefak jamban atau yang terkait dengan kegiatan di toilet tersebut.
”Sejauh ini belum pernah ada temuan arfetak terkait jamban di zaman Majapahit,” kata Kepala Sub Bagian Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Tommy Raditya Dahana.
Dengan demikian, aktivitas BAB (buang air besar) masyarakat kerajaan yang diyakini berpusat di Trowulan, Kabupaten Mojokerto itu masih dilakukan secara manual.
Baik dengan membuat jamban sederhana ataupun di sungai.
Kemungkinan ini berkelindan dengan kondisi wilayah Wilwatikta yang dikelilingi sungai, selain gugusan gunung.
Salah satunya yakni Sungai Brantas, yang pada era 700 tahun silam itu berperan penting dalam aktivitas perdagangan maupun jalur transportasi.
Bukti lainnya adalah keterkaitannya dengan kerajaan-kerajaan lain yang semasa dengan Majapahit (1293-1527).
Salah satunya penelitian tentang tipologi istana Kerajaan Banjar di Kalimantan Selasan.
Penelitian yang dilakukan Bani Noor Muchamad dan Naimatul Aufa dari Universitas Lambung Mangkurat itu menyebut, di tepi sungai seberang Istana Sultan Suriansyah (1526-1550) terdapat bangunan di atas air.
Baca Juga: Rumah Tahan Getaran Gempa, Karya Arsitektur Belanda di Bekas Pabrik Gula
Tipe bangunan kayu yang terapung (lanting) itu dijadikan sebagai kamar mandi dan jamban. (adi/ris)
Editor : Martda Vadetya