VENTILASI menjadi unsur bangunan yang penting di zaman Kerajaan Majapahit. Tak hanya berfungsi menjamin udara dapat keluar masuk secara bebas.
Ventilasi juga menjadi ornamen dan dekorasi yang atraktif, karena memiliki beragam bentuk menarik.
Diakui banyak peneliti, bangunan peninggalan Kerajaan Majapahit yang eksis sekitar 700 tahun silam tak sekadar menunjukkan majunya peradaban masyarakat dan teknologi.
Jejak-jejak permukiman kuno yang ditemukan di Trowulan, Kabupaten Mojokerto tempat yang diyakini sebagai ibu kota Majapahit, juga memiliki karakter unik.
Salah satunya, yakni adanya kesadaran iklim melalui teknik merancang bangunan yang bersinergi dengan alam.
Konsep ini berkaitan dengan kecercayaan Hindu-Buddha, serta adat istiadat saat itu.
Misalnya, bangunan yang menghadap ke Gunung Penanggungan atau Pawitra karena dianggap sakral.
Namun demikian, hal ini dinilai juga berkaitan dengan konsep aliran udara yang mengarah dari gunung ke laut.
Konsep kesadaran iklim mendorong masyarakat Majapahit menerapkan arsitektur yang aerodinamis dengan mempertimbangkan perpindahan suhu, serta kenyamanan penghuni.
Hal ini dapat dilihat dari bentuk-bentuk bangunan terbuka. Seperti bale atau yang sekarang dikenal dengan nama gazebo. Sebagai ruang keluarga dan tempat beraktivitas sehari-hari, bale yang tidak memiliki dinding, sehingga lebih segar.
Pun demikian dengan bangunan tempat tidur yang dilindungi dinding. Meskipun sudah menggunakan bahan baku tanah liat yang adaptif terhadap suhu, bangunan ini dilengkapi dengan ventilasi.
”Fungsinya sama dengan ventilasi di zaman sekarang, untuk sirkulasi udara,” ujar Kepala Sub Bagian Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Tommy Raditya Dahana.
Museum PIM di Trowulan menyimpan sejumlah peninggalan ventilasi dari era Majapahit.
Ventilasi ini memiliki beragam motif dengan bentuk utamanya kotak. Sebagian artefak-artefak itu terbuat dari tanah liat yang dipadatkan lalu dibakar alias terakota.
”Ada juga ventilasi yang terbuat dari bata putih, jadi dipahat,” imbuh dia.
Tommy mengatakan, sebagaimana sekarang, masyarakat Majapahit menempatkan ventilasi di bagian dinding bagian atas. Selain ventilasi, sirkulasi udara juga dibantu dengan adanya jendela. (adi/ris)
Editor : Martda Vadetya