BANGUNAN zaman Kerajaan Majapahit menyiratkan majunya teknologi, serta nilai kebudayaan yang kental.
Salah satunya terlihat dari unsur pilar atau tiang yang terdiri dari sambungan batu andesit dan kayu. Model konstruksi ini bisa dimaknai sebagai upaya menjaga kekokohan bangunan.
Berbagai bentuk tiang berbahan batu dapat diamati di Museum Pusat Informasi Majapahit (PIM), Trowulan, Mojokerto.
Pahatan pilar setinggi rata-rata satu meter tersebut memiliki bentuk ulir, kotak, hingga melingkar, dengan motif yang beragam. Pilar-pilar yang terbuat dari batu utuh tersebut juga dihias dengan ukiran bernilai estetis.
Kepala Sub Bagian Koleksi PIM Tommy Raditya Dahana menjelaskan, pilar batu tersebut dijadikan satu dengan kayu untuk menopang bangunan.
Pilar ini umumnya berada di bagian bawah yang menyenyuh permukaan tanah, dan disambung dengan tiang berbahan kayu yang berhubungan dengan atap.
”Sambungan antara pilar batu dan kayu ada yang hanya ditumpangkan, ada juga yang saling mengikat dengan bagian kayu dimasukkan ke bagian batu yang dibuat berlubang,” jelasnya.
Menurut dia, konstruksi pilar bersambung ini dapat ditemui pada bangunan rumah hingga bangunan terbuka, semacam pendapa dan paseban.
Seperti yang tergambar pada beberapa relief candi. Adanya satu artefak tiang batu bertahun era Kerajaan Mataram yang dikoleksi PIM menandakan unsur bangunan ini masih digunakan setelah Majapahit. Artefak tersebut dihias dengan ukiran gunungan serta hewan menyerupai kuda.
Demikian juga pilar ukir berbahan batu yang masih digunakan sampai sekarang. Banyak bengkel konstruksi yang memproduksi sambungan pilar berbahan batu bata putih atau lainnya dengan aneka motif.
Seperti di era Majapahit, pilar ini biasanya juga disambung dengan pilar kayu atau sebatas hiasan yang berfungsi menyelubungi tiang kayu.
Tommy mengungkapkan, penggunaan pilar batu memiliki banyak manfaat bagi bangunan. Selain memperkokoh rumah, pilar batu juga membuatnya lebih awet, karena lebih tahan gerusan dibanding kayu.
”Bisa juga dimaknai untuk menghindari pertemuan langsung antara kayu dengan tanah, supaya tidak lapuk,” bebernya.
Dalam konstruksi Majapahit, tiang bangunan juga biasanya berdiri di atas umpak yang terletak di permukaan tanah.
Selain sebagai tatakan, umpak yang dibuat dari batu ini disebut juga mampu meredam dampak gempa dengan skala tertentu.
Tommy menyatakan, pilar batu ada yang ditaruh di umpak dan ada pula yang langsung di atas permukaan tanah.
”Bagian bawah pilar batu dibuat sesuai dengan kebutuhan, apakah ditaruh di umpak atau langsung di atas tanah,” tandas dia. (adi/ris)
Editor : Martda Vadetya