RADARMAJAPAHIT - Kompleks permukiman elite pada zaman Kerajaan Majapahit berupa gugusan bangunan yang dikelilingi pagar.
Pola permukiman ini disebut pakuwon dan biasanya dihuni oleh kalangan bangsawan. Tak sekadar berdiri, pola hunian ini dibangun atas kesadaran beradaptasi dengan cuaca serta upaya memitigasi bencana.
Gambaran permukiman didapat para ahli berdasarkan petunjuk arkeologis dalam relief-relief candi zaman Majapahit dari abad ke-14 hingga 15 Masehi.
Diketahui gugusan perumahan ditata dengan aturan tertentu yang memperhatikan arah mata angin hingga nilai kepercayaan Hindu dan Buddha.
Gugusan itu terdiri dari beberapa bangunan seperti bale atau gazebo hingga ruang tertutup tempat tinggal pemilik rumah. Kompleks ini ditandai dengan pagar yang mengelilinginya.
Ketua Perkumpulan Peduli Majapahit Gotrah Wilwatikta Anam Anis mengatakan, kompleks perumahan yang ditata demikian disebut Empu Prapanca dalam Kitab Negarakertagama dengan nama pakuwon atau pakuwuan.
’’Rumah-rumah bangsawan ini besar mirip taman dan jarak tiap bangunannya dalam pakuwon ini ditata dengan baik,’’ ujarnya.
Pakuwon yang dikeilingi pagar terdiri dari bangunan terbuka, setengah terbuka, dan berbilik.
Terdapat satu pintu masuk utama atau gerbang pakuwon dan beberapa celah lain yang menjadi pintu masuk.
Dalam pakuwon umumnya terdapat dua halaman, yakni halaman depan yang dihubungkan dengan gerbang utama.
Di halaman ini terdapat beberapa bangunan terbuka. ’’Termasuk bale atau gazebo yang biasanya jadi tempat tamu diterima sebelum masuk rumah,’’ kata pengacara senior Mojokerto tersebut.
Sementara itu, halaman kedua menjadi tempat berdiri bangunan tertutup tempat tinggal pemilik pawukon dan keluarganya. Di sana pula pawon atau dapur berada.
Antara kedua halaman ini biasanya juga dipisah dengan pagar dan gerbang beratap pendek. Anam Anis mengatakan konsep bangunan demikian masih bisa dijumpai dalam pola permukiman tradisional di Bali.
Menurutnya, penataan ruang permukiman Majapahit sarat akan kesadaran terhadap iklim yang lembap.
Bangunan terbuka pun dibuat dengan tetap memperhatikan kenyamanan. Selain itu, antarbangunan juga berdiri berjarak dengan maksud mencegah kebakaran merambat.
’’Termasuk rumah-rumahnya juga menghadap ke arah Gunung Penanggungan, itu terkait filosofi kepercayaan,’’ tandas pria kelahiran 1958 itu. (adi/fen)
Editor : Martda Vadetya