Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Ini Mainan Anak sekaligus Sarana ’’Tumbal’’ di Zaman Majapahit

Martda Vadetya • Senin, 20 Mei 2024 | 14:05 WIB
BERSEJARAH: Patung terakota koleksi museum PIM BPK Wilayah XI, Trowulan, Mojokerto, salah satu peninggalan zaman Majapahit. (Adi/JPRM)
BERSEJARAH: Patung terakota koleksi museum PIM BPK Wilayah XI, Trowulan, Mojokerto, salah satu peninggalan zaman Majapahit. (Adi/JPRM)

RADARMAJAPAHIT - SENI patung di era Kerajaan Majapahit rupanya memiliki beragam makna dan fungsi. Arca berbahan batu seringkali dibuat sebagai sarana peribadatan.

Sedangkan patung dari tanah liat alias terakota, digunakan untuk mainan anak-anak hingga simbol pengorbanan dengan kondisi ditemukan terpotong tanpa kepala. 

Kepala Sub Unit Koleksi PIM Tommy Raditya mengungkapkan, patung terakota lebih banyak berupa pemfiguran, bukan sebagai arca untuk persembahan dewa.

Ukuran patung ini cenderung mini, yang cukup dimasukkan ke gelas atau cangkir.

”Ada yang mengatakan, dia ini digunakan untuk mainan anak, tapi ada pula yang mengatakan kalau figuring (patung terakota) itu digunakan untuk ritual upacara juga,” bebernya, Jumat (17/5).

Dari koleksi yang dimiliki PIM, patung terakota berupa sosok manusia dari kepala hingga kaki.

Namun, ada pula yang hanya separo badan atau badan dan kepala terpisah.

Figur yang dibuat patung itu memiliki beragam bentuk wajah dengan ukuran tak jauh berbeda.

Tommy mengatakan, bagian wajah patung terakota dibuat menggunakan cetakan khusus. Karena itu, dapat ditemukan berbagai jenis dengan bentuk yang mirip.

”Bagian tubuhnya macam-macam tapi wajahnya bisa sama,” ucapnya.

Kajian para peneliti menyebutkan, patung terakota dibuat sebagai mainan anak-anak. Namun, ada pula yang menyimpulkan jika patung dari pembakaran tanah ini digunakan sebagai simbol pengorbanan manusia dalam ritual persembahan kepada dewa.

”Jadi figurin ini dibuat untuk analogi pengorbanan sehingga banyak ditemukan dalam kondisi kepala terputus,” beber Tommy.

Ritual ini mirip dengan tradisi Saparan Bekakak yang masih lestari di Sleman, DIY.

Dalam tradisi yang digelar setiap bulan penanggalan Jawa, sapar, itu sepasang boneka disembelih sebagai simbol pengorbanan.

Tradisi tersebut ditujukan sebagai penghormatan terhadap arwah loyalis Pangeran Mangkubumi.

Tommy menyebutkan, tak sedikit penemuan artefak patung terakota berupa hanya bagian kepala atau wajah. Hal ini selaras dengan hasil kajian adanya tradisi pengorbanan.

”Makanya, ada yang menyebut kalau yang utuh itu bisa jadi mainan dan yang putus-putus itu untuk ritual,”  tandasnya. (adi/ris)

 

Editor : Martda Vadetya
#pengorbanan #majapahit #terakota #tumbal #patung #arca