AKTIVITAS perdagangan antarwilayah dengan Cina (Tiongkok) mempengaruhi perkembangan terakota di era Majapahit.
Kebudayaan negeri tirai bambu diyakini turut memengaruhi bentuk dan corak kerajinan tanah liat di Nusantara. Di antaranya, meniru keramik dalam menghasilkan tembikar.
Hal ini menjadi bagian dari penelitian para ahli yang dituangkan dalam buku Insipirasi Majapahit hasil kegiatan Penelitian Arkeologis Terpadu Indonesia (PATI) III pada 2014.
Dalam buku itu disebutkan, peradaban Majapahit telah mengenal teknologi teknik pembentukan langsung, teknik putar roda lambat, teknik tatap pelandas, hingga teknik cetak.
Guna menghasilkan benda-benda sebagaimana yang banyak ditemukan di kawasan Trowulan, para ahli menyimpulkan diperlukan proses pembakaran tanah dengan suhu cukup tinggi antara 800-1.300 derajat celcius.
”Sehingga hasilnya sangat kuat,” kata pemerhati sejarah Majapahit, Anam Anis.
Hal demikian menunjukkan pengetahuan mengelola bahan tanah liat telah maju.
Dari cici-ciri terakota yang ditemukan, peneliti menduga kuat jika perajin juga mencoba melakukan alih teknologi pembuatan tembikar dari negara lain.
Perajin Trowulan, yang diasumsikan sebagai Ibu Kota Majapahit, meniru barang-barang keramik yang dibawa dari Cina.
”Karena saat itu Majapahit memang belum bisa membuat barang dari bahan keramik,” imbuh Anam Anis.
Dugaan pengaruh itu diperkuat dengan fakta komoditas keramik Cina merupakan komoditas kaum elite yang tidak terjaungkau oleh rakyat kebanyakan.
Baca Juga: Begini Kondisi Makam Prajurit Era Majapahit di Trowulan Mojokerto
Oleh karena itu, dimungkinkan ada upaya pembuatan barang tiruan agar dipakai masyarakat secara umum.
Barang-barang luar negeri itu antara lain, berupa piring, mangkuk, periuk, sendok, guci, vas, ubin, tempayan, hingga jambangan. (adi/ris)
Editor : Martda Vadetya