Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Ragam Kerajinan Tanah Era Majapahit, Dari Alat Dapur hingga Bahan Konstruksi  

Yulianto Adi Nugroho • Senin, 29 April 2024 | 03:44 WIB

 

KUNO: Koleksi terakota perabotan rumah berbahan tanah liat dari zaman Majapahit milik Museum Gubuk Wayang.
KUNO: Koleksi terakota perabotan rumah berbahan tanah liat dari zaman Majapahit milik Museum Gubuk Wayang.

RADARMAJAPAHIT - Kerajaan Majapahit tidak hanya dikenal maju di sektor pertanian dan maritim. Teknologi bidang pengolahan tanah menjadi terakota pun dikenal jempolan pada masanya.

Hampir seluruh keperluan keseharian yang sifatnya profan atau sakral terpenuhi melalui keterampilan tersebut.

Seperti barang gerabah dan perabotan rumah tangga, hingga batu bata khas yang kelak teruji mampu bertahan selama ratusan tahun.

Keterampilan mumpuni serta faktor bahan alami ditengarai menjadi kunci kriya tersebut berkembang pesat.

Masa kejayaan Kerajaan Majapahit menjadi tonggak penting peradaban di Nusantara.

Di masa Pemerintahan Hayam Wuruk (1350-1389) membawa kemajuan di berbagai bidang.

Masyarakat yang sejahtera, pengaruh politik dan perdagangan yang luas, serta berkembangnya seni budaya dan karya sastra.

Demikian ini di antara indikator masa keemasan kerajaan, sebagaiamana diuraikan dalam Kitab Negarakertagama.

Salah satu aspek yang mengalami perkembangan pesat adalah kerajinan berbahan tanah.

Teknik pembuatan barang-barang keseharian dari tanah liat yang dibakar menjadi beragam bentuk benda bermunculan.

Seperti gentong, jambangan, guci, bejana, dan kendi. Kriya-kriya itu berguna sebagai penampung air, penyimpan makanan, hingga membantu proses pengawetan.

”Dengan bahan sederhana berupa tanah, masyarakat Majapahit bisa membuat barang yang amat kuat,” kata Ketua Perkumpulan Peduli Majapahit Gotrah Wilwatikta, Anam Anis.

Menurutnya, pengolahan tanah liat menjadi perabotan sudah menjadi budaya bangsa.

Bahkan, sejak sebelum era kerajaan yang diyakini berpusat di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto itu.

Kebudayaan ini berkembang pesat seiring dengan pengaruh Majapahit yang makin kuat. Khususnya, di bidang perekonomian.

Aktivitas perdagangan antarwilayah membuat terakota tersebut semakin dikenal dan memiliki nilai tinggi.

Selain untuk memenuhi kebutuhan keseharian, terakota juga diciptakan untuk memenuhi kebutuhan seni dan artistik masyarakat.

Demikian pula dengan proses yang berhubungan dengan kepercayaan.

Di sisi lain, milestone kerajinan Majapahit juga muncul dalam bentuk batu bata.

Kriya hasil pengolahan tanah liat melalui teknik pembakaran sempurna ini telah diakui sebagai produk yang bertahan selama ratusan tahun.

Hal itu juga terbukti dari masih melimpahnya candi dan cagar budaya berbahan batu bata tersebut.

”Batu bata Majapahit kuat karena saat itu kondisi tanah liatnya masih sangat bagus, belum tercemar apa-apa. Selain proses pembuatannya juga alami,” terang Anam Anis.

Dalam rupa bangunan, arsitek zaman Majapahit juga menerapkan teknik yang unik.

Yakni, dengan cara penggosokan. Batu bata yang telah melewati proses pembuatan dipasang dengan cara saling digosokkan menggunakan sedikit air.

Metode ini membuat bata saling menempel kuat tanpa perekat, seperti semen yang ada sekarang.

”Dengan digosok saja sudah sangat rekat, kuatnya tidak kalah dengan (besi) betoneser,” tandas pria 66 tahun tersebut.

Dalam beberapa bangunan rumah bangsawan, terakota genting saat itu juga telah dikenal. (adi/ris)

Editor : Martda Vadetya
#teknologi majapahit #majapahit #gerabah #terakota #kriya