Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Jejak Perjuangan Pejabat Kerajaan Majapahit dalam Membantu Menyebarkan Agama Islam

Moch. Chariris • Selasa, 2 April 2024 | 05:11 WIB
JEJAK WALISONGO: Juru Kunci Makam Troloyo Arifin menunjukkan area yang biasa digunakan walisongo bermusyarah di era Kerajaan Majapahit, di Desa Sentonorejo, Trowulan, Mojokerto.
JEJAK WALISONGO: Juru Kunci Makam Troloyo Arifin menunjukkan area yang biasa digunakan walisongo bermusyarah di era Kerajaan Majapahit, di Desa Sentonorejo, Trowulan, Mojokerto.

RADARMAJAPAHIT – Pemakaman Islam di kompleks Makam Troloyo, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto menjadi bukti peradaban Islam di era Kerajaan Majapahit.

Di lahan pemakaman seluas 3,5 acre atau setara dengan 152 ribu kaki persegi, ini tidak hanya terdampat Makam Syekh Jamaluddin Al Husain Al Akbar alias Syekh Jumadil Kubro.

JEJAK PERADABAN: Pintu gerbang masuk area kompleks bersejarah jejak tempat musyawarah walisongo di Makam Troloyo Trowulan.
JEJAK PERADABAN: Pintu gerbang masuk area kompleks bersejarah jejak tempat musyawarah walisongo di Makam Troloyo Trowulan.

Namun, di area makam yang tidak pernah sepi dari peziarah ini, setidaknya terdapat 19 nama tokoh kerajaan dan Islam dimakamkan.

Salah satunya adalah Makam Tumenggung Satim Singomoyo.

Dia dikenal sebagai tokoh penting saat itu.

Semasa hidupnya, Tumenggung Satim Singomoyo dikenal setia membantu Syekh Jumadil Kubro menyebarkan agama Islam.

Uniknya, Tumenggung Satim Singomoyo adalah salah satu tokoh sentral di zaman Kerajaan Majapahit yang memilih memeluk agama Islam.

Tumenggung Satim Singomoyo, dikenalsebagai pejabat kerajaan yang bisa diajak bermusyawarah.

Seperti tentang kesulitan di dalam berdakwah untuk mengembangkan ajaran Islam di Jawa.

Hanya saja, keputusan Tumenggung Satim Singomoyo memeluk agama Islam atau muallaf tidak dilakukan secara terang-terangan.

Namun, perjuangan Syekh Jumadil Kubro dalam menyebarkan agama Islam tidaklah mudah.

Beberapa kendala dan kesulitan pun dialaminya.

Terlebih Kerajaan Kerajaan Majapahit sangat kuat dalam memeluk agama Hindu.

Tumenggung Satim Singomoyo memiliki istri bernama Raden Ayu Dewi Condro Asmoro.

Memang, keberadaan Tumenggung Satim Singomoyo cukup berpengaruh saat itu.

Terbukti, masyarakat yang sebelumnya memeluk agama Hindu perlahan ikut memeluk agama Islam.

Selama penyebaran agama Islam di Jawa, dia juga dibantu dua orang santri, Raden Husen (Sayid Chusen) dan Immamuddin Sofari.

Raden Husen sebagai pengarep atau imam, sedangkan immamuddin Sofari bertugas mengurus jenazah warga Islam yang meninggal.

Di akhir hayatnya Tumenggung Satim Singomoyo wafat sebagai suhada.

Dia meninggal ketika terjadi perang dengan kerajaan Keling Daha Jenggala Kediri, yang dipimpin Raja Girindrawardhana Dyah Ranawijaya.

Jasadnya kemudian dimakamkan di kompleks Makam Troloyo.

Berada dalam satu lokasi dengan Makam Sayyid Jumadil Kubro.

Juru kunci Kompleks Makam Troloyo Arifin, mengungkapkan, semasa hidupnya Tumenggung Satim Singomoyo memang bertugas membantu perjuangan Syekh Jumadil Kubro.

”Beliau merupakan mualaf pertama. Tumenggung Satin Singomoyo yang memberikan jalan dan memperkenalkan dengan tokoh-tokoh bangsawan Majapahit,” ungkap Arifin, Senin (1/4). 

Makamnya diberi tanda pohon jati.

Setelah pohon jati itu besar, kemudian tumbuh pohon aspak dan pohon beringin.

Hingga saat ini pohon tersebut masih ada.

Arifin menjelaskan, nama Singomoyo yang disandang Tumenggung Satim Singomoyo tersebut bukan tanpa alasan.

Semasa hidupnya dia pernah memelihara harimau.

”Sehingga beliau diberi gelar Singomoyo,” tandasnya.

Di kompleks makam ini terdapat sumur peninggalan Tumenggung Satim Singomoyo.

Kedalaman sumur itu tersebut mencapai 5 meter.

Baca Juga: Mengasah Ilmu Media Sosial dan Komunikasi Digital, Guru dan Siswa Diajak Praktik Jadi Konten Kreator

Alhamdulillah, sumur tua itu tidak pernah kering. Mesin diesel penyedot air saja tidak bisa menghabiskan airnya,” imbuh Arifin.

Belakangan diketahui sumur tersebut dipergunakan Tumenggung Satim Singomoyo untuk membasuh wajah atau berwudu.

Arifin menambahkan, di samping sumur tua ini ada kolam kecil.

Dulunya kolam itu sebagai tempat minum harimau peliharaan Tumenggung Satim Singomoyo.

Bahkan, sumur tua tersebut diyakini memiliki banyak khasiat dan memberi berkah bagi mengonsumsi airnya.

”Ada pula yang mempercayai, jika meminum air sumur tinggalan ini bisa memiliki ketenteraman batin. Dengan keyakinan, lantaran dari sumur itu opo sing dadi keluhan e isok dadi tentrem e ati. Lantaran lho yo,” tandasnya.

 

 

Editor : Moch. Chariris
#kerajaan abad ke-11 #Islam abangan #Syekh Jumadil Kubro