RADARMAJAPAHIT – Di tengah runtuhnya kedigdayaan kerajaan, Majapahit memang tidak bisa dipisahkan dengan sejarah dan keberadaan Islam di Nusantara.
Di mana, saat itu Islam dibawa oleh Syekh Jumadil Kubro dan walisongo.
Bahkan, sebagai raja terakhir, Prabu Brawijaya akhirnya memilih untuk mualaf dan meninggalkan agama yang dianut oleh raja-raja sebelumnya.
Disunting dari Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang yang diterjemahkan Moelyono Sastronaryatmo, diketahui nama kecil dari Prabu Brawijaya V adalah Raden Alit.
Prabu Brawijaya V merupakan raja terakhir Kerajaan Majapahit sebelum runtuh.
Raden Alit sendiri diketahui sebagai keturunan ketujuh dari raja-raja terdahulu yang pernah berkuasa di Majapahit.
Dalam serat Kitab Pararaton, Prabu Brawijaya dikenal sebagai Bhre Kertabumi.
Tetapi, pandangan lain menyebutkan, Brawijaya V ini dimungkinkan lebih identik dengan Dyah Ranawijaya.
Selama berdirinya Kerajaan Majapahit sekitar 100 tahun, diketahui Brawijaya pernah menjadi penguasa pada tahun 1468 hingga 1478 Masehi, atau tepatnya sebelum Majapahit Runtuh.
Ketika itu, ia mengambil alih tahta kerajaan dari ayahnya, Prabu Bratanjung.
Brawijaya memerintah dalam waktu yang cukup lama atau sejak putra sulungnya yang bernama Arya Damar belum lahir, hingga pada akhirnya turun takhta.
Setelah ada konflik dalam internal kerajaan.
Pasca berkuasa, kepemimpinan lantas dilanjutkan putranya yang lain, dari Kerajaan Demak, yaitu Raden Patah.
Meski demikian, dalam sejarah Kerajaan Majapahit, gelar sebagai raja terakhir yang disandang Brawijaya masih memunculkan perdebatan.
Dengan alasan, nama Brawijaya belum pernah ditemukan di berbagai prasasti yang menuliskan deretan nama-nama raja Majapahit sebelumnya.
Sebaliknya, raja terakhir yang disebutkan adalah Girindrawarddhana. Dia berkuasa dari tahun 1474 hingga 1519.
Dari situ, belakangan Brawijaya hanya dikenal sebagai seorang raja Majapahit melalui catatan-catatan dalam babad dan serat.
Editor : Moch. Chariris