Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sejarah Majapahit, Sunan Ngundung, Panglima Perang dari Kerajaan Demak, Putra Sultan Palestina

Moch. Chariris • Jumat, 29 Maret 2024 | 05:57 WIB
SAKRAL: Peziarah berdoa di Makam Sunan Ngundung di kompleks Makam Troloyo, Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Laila Ramadani for Radar Majapahit)
SAKRAL: Peziarah berdoa di Makam Sunan Ngundung di kompleks Makam Troloyo, Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Laila Ramadani for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT - Wisata religi kompleks Makam Troloyo merupakan tempat yang direkomendasikan untuk dikunjungi peziarah.

Di area makam tersebut tidak hanya terdapat Makam Syekh Jumadil Kubro, kakek dari Sunan Ampel atau Raden Rahmat.

TERAWAT: Peziarah mengamati Makam Sunan Ngundung yang masih terawat dan dijaga warga setempat. (foto: Laila Ramadani for Radar Majapahit)
TERAWAT: Peziarah mengamati Makam Sunan Ngundung yang masih terawat dan dijaga warga setempat. (foto: Laila Ramadani for Radar Majapahit)

Melainkan juga terdapat pula makam Sunan Ngundung.

Sunan Ngundung dikenal sebagai ayah Sunan Kudus atau Sayyid Jafar Shadiq Azmatkhan.

Sunan Ngundung dimakamkan di kompleks pemakaman Troloyo, tepatnya di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Pada abad ke-15, Sunan Ngudung datang dari Palestina untuk melakukan hijrah ke pulau Jawa dan menyebarkan agama Islam.

Sunan Ngundung merupakan putra dari salah satu sultan di Palestina, Sayyid Fadhal Ali Murtzha.

Sunan Ngundung dimakamkan di pemakaman Troloyo ketika ia dinyatakan gugur sebagai sahid dalam peperangan melawan Kerajaan Majapahit pada tahun 1524.

”Memang Sunan Ngundung merupakan panglima dari Kerajaan Demak. Namun ia  dimakamkan di Bumi Majapahit sebagai bentuk penghormatan atas jasanya,” ujar Suwamin, 69, warga setempat, Kamis (28/3).

Sunan Ngundung bernama asli Raden Utsman Haji merupakan seorang waliyullah dan imam besar di Masjid Demak pada masa pemerintahan Sultan Trengana.

Tidak hanya itu ia juga merupakan panglima perang dari Kerajaan Demak yang melawan Kerajaan Majapahit.

”Diberi gelar Sunan Ngundung karena memang dahulu beliau merupakan penghulu Rahmatullah di undung,” ungkapnya.

Makam Sunan Ngundung berada di samping Masjid Baitul Muttaqin, tepatnya di belakang Makam Syekh Jumadil Kubro.

Makam ini dilindungi oleh bangunan cungkup dan ditopang dengan enam pilar.

Makam Sunan Ngundung diperkirakan panjangnya sekitar tiga meter. (laila ramadani)

Editor : Moch. Chariris
#troloyo #majapahit #Sunan #demak